
Bacaan I : Yes. 50:4-7; Bacaan II: Flp. 2:6-11; Bacaan Injil: Mat. 26:14-27:66.
ANAK KELEDAI DAN IBUNYA
Kata Ibuku, kami ini sudah ditakdirkan menjadi mahluk paling dungu yang pernah ada di muka bumi. Kami memang berbeda dengan si kuda yang gagah dan elok. Majikan kami sayang padanya. Dia hanya digunakan jika ada pembesar kerajaan yang meminjamnya. Kandangnya selalu dibersihkan, makanannya terjamin dan selalu dimandikan setiap hari.
Kami hanya mendapat makanan sekadarnya dan tidak punya kandang. Ibu sering bercerita bahwa dia kerap disuruh membawa hasil bumi. Manusia tidak segan memukul atau berteriak memaki kami.
Aku masih tergolong muda. Belum pernah ditunggangi oleh manusia. Kata ibu, aku belum cukup kuat untuk membawa beban berat bahkan seorang anak manusia sekalipun.
Suatu hari, ada beberapa manusia datang, melepaskan ikatan kami dan hendak membawa ibuku. Majikanku menghampiri mereka dan bercakap-cakap sesaat dan kemudian membawaku juga. Kami berhenti di suatu tempat, ada beberapa orang menghampiri kami dan menunjuk-nunjuk aku. Ibu tidak suka karena mereka akan menggunakan aku untuk mengangkut manusia dewasa. Ibu meronta ketika manusia-manusia itu mengalasi punggungku dengan kain. Aku gugup dan bingung.
Tiba-tiba ada Manusia mendekati ibuku, memandang dengan lembut, menenangkannya dengan mengusap kepala ibu seakan berkata bahwa aku akan baik-baik saja. Sebelum Dia naik ke punggungku, Manusia itu mengelusku dengan lembut. Aku tidak merasakan beban yang berat ketika Dia di atasku. Ada sukacita yang belum pernah aku rasakan. Di sepanjang jalan yang kami lalui, alam menaruh hormat terhadap Manusia yang duduk di atasku. Mereka bergembira memuji Sang Pencipta. Aku merasa menjadi ciptaan yang paling beruntung.
Kami memasuki kota. Di sana banyak manusia menyambutNya dengan lambaian daun palma. Mereka melepas jubah sebagai penutup jalan. Seisi kota menyambutNya bak seorang raja. Kemudian tibalah kami di suatu tempat. Manusia itu turun dari punggungku. Dia memandangku, kemudian memelukku sebagai tanda terima kasih. Hatiku tiba-tiba menjadi sedih. Dia menghampiri ibuku dan melakukan hal yang sama. Kemudian Dia melangkah pergi. Aku berteriak, "aku masih ingin bersamamu Tuan!"
Dia berhenti dan menoleh kepadaku. Dia melambaikan tanganNya dan tersenyum. Aku melihat beban berat di balik senyumNya itu. (CT)




