
Bacaan I: Mal. 4:1-2a; Bacaan II: 2Tes. 3:7-12; Bacaan Injil: Luk. 21:5-19.
MENJADI SAKSI
"Sanguis Martyrum Semen Christianorum" (Darah Para Martir adalah benih bagi Gereja). Ungkapan dari Santo Tertulianus (155-230), teolog, filsuf dan Bapa Gereja, bersumber dari 3 tugas panggilan Gereja : Koinonia (persekutuan), Diakonia (pelayanan) dan Marturia (kesaksian). Marturia artinya memberi kesaksian iman melalui pemberitaan injil. Marturia sangat dekat artinya dengan "martir" yaitu orang yang berani memberi kesaksian tentang imannya sampai rela mati.
Injil hari ini (Luk 21:5-19) berbicara tentang beberapa hal: 1) Hari Tuhan. Orang Yahudi mengenal 2 masa, yaitu "Masa Kini" dan "Masa Yang Akan Datang". Di antara ke dua masa itu adalah "Hari Tuhan", yang ditandai dengan peperangan, penyakit, gempa bumi dan tanda-tanda dahsyat di langit (ayat 9 dan 11). 2) Ramalan jatuhnya Yerusalem (ayat 5-6). Roma menguasai Yerusalem tahun 70 Masehi, di mana hampir 1 juta orang meninggal, ratusan ribu ditawan dan Bait Allah dihancurkan. 3) Kedatangan Kristus yang kedua. "Banyak orang akan datang dengan memakai NamaKu dan berkata : Akulah Dia" (ayat 7-8). 4) Penganiayaan (ayat 12-19). "Kamu akan ditangkap dan dianiaya" (ayat 12). Menghadapi situasi itu, Yesus meminta murid-muridNya menjadi Saksi. "Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi" (ayat 13). Yesus juga menjamin untuk menyertai para murid ("Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat" - ayat 15) serta memberikan rasa aman ( "Tidak sehelaipun dari rambutmu akan hilang" - ayat 17). Apa pesan injil hari ini untuk kita ? 1) Kita dipanggil untuk menjadi SAKSI. Tugas Saksi adalah memberi kesaksian tentang apa yang dia dengar, dia lihat dan dia alami. 2) Kita bersaksi tentang kebaikan dan kebesaran Allah yang tercermin dalam pribadi Kristus. "Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku" (Yoh 14:6). 3) Agar kesaksian itu dianggap "valid" atau "sah", maka kita harus terlebih dahulu melihat, mendengar dan mengalami kebaikan dan kebesaran Allah. Dan untuk itu kita harus "dekat dengan Allah". Kita dekat dengan Allah melalui doa, membaca firman, menerima sakramen-sakramen dan berkumpul bersama saudari-saudari se-iman. 4) Kekuatan kesaksian bisa nampak dari sikap hidup dan perilaku setiap hari. "Supaya kamu tidak beraib dan tidak bernoda sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela" (Fil 2:15). 5) Kita tidak perlu takut memberi kesaksian, karena Roh Kristus selalu menyertai dan memberi kekuatan. Roh Tuhanlah yang memampukan kita. 6) Memberi kesaksian bukan tanpa risiko, bahkan sampai risiko kematian seperti yang dialami para martir. Namun "Seseorang yang berjalan bersama Kristus boleh kehilangan hidupnya, tapi tidak akan pernah kehilangan jiwanya!" (YS).




