
Bacaan I: Yes. 66:18-21; Bacaan II: Ibr. 12:5-7.11-13; Bacaan Injil: Luk. 13:22-30.
Surga Jadi Hak Prerogatif Allah
Bacaan Injil Lukas 13:22-30 ini mengajak kita untuk menyadari kembali tujuan hidup kita sebagai orang Katolik. Apakah perjalanan hidup kita sudah menuju kepada jalan keselamatan kekal bersama Allah atau belum? Sabda Tuhan mengingatkan kita bahwa keselamatan kekal itu harus diraih dengan ketekunan, kesabaran, dan perjuangan, kerja keras.
[Luk 13:24] Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat."
Apa itu keselamatan? Apakah dengan dibaptis menjadi orang Katolik belum cukup untuk mendapatkan jaminan keselamatan kekal?
Keselamatan itu adalah seluruh proses kehidupan kita. Sebagai pengikut Kristus, mestinya seluruh perjalanan hidup kita diwarnai oleh ajaran-Nya. Artinya ajaran Tuhan harus mentransformasi jiwa kita, mengubah sikap, cara hidup, cara berpikir dan bertindak, dan peka terhadap sesama. Kian sempit pandangan dan cara berpikir kita, maka makin sempit pula hati kita. Pintu Kerajaan Allah pun makin sempit. Sangat tidak mudah mengikuti Yesus. Karenanya Yesus bersabda, "Berjuanglah untuk masuk lewat pintu sesak itu!"
Hanya bermodalkan baptis saja jelas tidak cukup. Kristus memang telah menebus kita dan jalan keselamatan telah terpampang di depan mata. Tapi ada persyaratan lainnya. Keselamatan kekal akan kita peroleh jika makin mengenal Tuhan, mendengarkan sabda dan melaksanakan sungguh-sungguh ajaran-Nya. Jangan sampai seperti yang dikatakan Yesus [Luk 13:27], "Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan." Karena sejatinya kita tahu ajaran-Nya, tiap Minggu ke gereja tapi semua sekadar formalitas belaka dalam kehidupan sehari-hari seperti tak pernah mengenal Kristus.
Maka marilah kita menyadari secara sungguh-sungguh dan jujur terhadap keberadaan hidup kita sebagai orang Katolik sejati, bukan sekadar formalisme Baptis dan Krisma saja, melainkan lebih pada kejujuran dan kesungguhan melaksanakan serta menghayati hidup dan perilaku kita sebagai pengikut Kristus. (VH)




