UMAT KATOLIK MANYEMBAH ATAU MEMUJI BUNDA MARIA?

Kita sering mendengar banyak orang berkata bahwa umat katolik menyembah Bunda María. Ada juga orang yang mungkin tidak mengerti mengapa umat Katolik berdoa di depan patung atau gambar Perawan Maria. Padahal dalam Kitab Suci sudah sangat jelas ada larangan penyembahan selain kepada Allah Yang Esa.
Dalam tulisan ini, saya ingin memberikan pencerahan atas pertanyaan-pertanyaan atau keraguan tentang kebaktian Katolik kepada Maria. Dan bagi umat Katolik, tulisan ini mengajak agar kita semakin semangat untuk mempendalami iman tentang pentingnya peran Bunda Maria di dalam gereja yang satu dan kudus.
Maria Tidak Disembah
Ada perbedaan antara kata menyembah dan memuji. Menyembah merupakan penghormatan yang khidmat dengan sujud dan memuja; memuji adalah suatu perasaan yang lahir atas kekaguman sehingga memberikan sebuah penghargaan dengan cara memuliakan.
Menyembah dalam bahasa latin “Latría” atau dalam bahasa yunani “λατρεια” (latreia) yang berarti penyembahan atau kultus yang harus diberikan hanya kepada Allah karena Ia adalah Tuhan dari segala ciptaan, sumber kebaikan, kebijaksanaan, belaskasih, dan penyelamat kita.
Menyembah Allah berarti memberikan segala penghormatan serta penyerahan diri secara absolut karena kerendahan kita dihadapan keagungan Tuhan.
Umat Katolik hanya menyembah kepada Allah, ini tertera dalam Kitab Suci sebagai kebenaran iman.
Dalam kitab Keluaran 20: 4-5 berbunyi “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu...”
Umat Katolik tidak menyembah Bunda Maria, kepadanya diberikan pujian yang istimewa sebagai tanda hormat kita kepada sang bunda yang telah melahirkan Penebus dunia. Kultus yang diberikan kepada Maria dikenal dengan “hiperdulía”, ini lebih tinggi dari kultus yang diberikan kepada para Santo atau orang kudus yang disebut “dulia”.
Maria Wanita Pilihan
Pujian kepada Maria diberikan karena dia adalah wanita yang dipilih Allah untuk menjadi Bunda Kristus; artinya Maria tidak seperti yang lainnya karena dia menerima berkat dan karunia yang khusus untuk menjadi Bunda dari Allah sendiri.
Coba kita mengenang kembali narasi tentang Maria mengunjungi Elisabet dalam kitab Lukas1: 41-42 “Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu”. Dan selanjutnya
Pernyataan Elisabet mengafirmasikan bahwa Maria adalah wanita yang diberkati karena dia dipilih oleh Allah untuk membawa Juruselamat di dalam rahimnya, dan itulah sebabnya kita umat Katolik memanggilnya demikian dari generasi ke generasi.
Oleh karena itu, penghormatan dan pujian yang diberikan umat Katolik kepada Perawan yang Terberkati memiliki dasar alkitabiah yang kuat.
Kepada Maria kita memberikan cinta yang istimewa, meniru teladan hidupnya, menghormatinya dan percaya kepadanya seperti kepercayaan yang diberikan Yesus kepadanya.
Dia adalah makhluk pertama yang sepenuhnya dimuliakan Allah, suatu tanda konkret tentang keselamatan Yesus Kristus dalam kemanusiaan kita. Memuliakan Maria berarti mengakui iman kita dalam penggenapan Paskah Yesus Kristus yang kuat dalam diri kita.
Maria selalu memerhatikan kita, mengasihi kita dengan cinta seorang ibu yang tak ada batas karena Yesus sendiri telah menyerahkan kita kepadanya: Yoh: 19: 26 “ibu inilah anakmu”. Kita pun demikian mengasihi Maria dalam ketaatan kepada Yesus dan kesetiaan kepada Injil: Yoh 19: 27 “inilah ibumu”. Itulah sebabnya dengan penuh percaya diri kita menghadap Maria untuk menyampaikan segala kebutuhan dan percaya dengan perantaraan keibuannya.
Maria Perantara Kepada Kristus
Kita menghormati dan memuliakan Maria karena ia adalah perantara kepada Kristus bagi semua anak yang datang memohon belaskasih Allah. Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan bahwa Maria menggantikan posisi Tuhan Yesus sebagai perantara.
Gereja selalu mengajarkan bahwa hanya Kristuslah satu-satunya jalan untuk menuju Bapa, dan hanya melalui Dialah kita didamaikan dengan Allah; ini berarti Yesus adalah satu-satunya mediator Allah dengan Manusia.
Namun ada arti lain dari kata “perantara” yang menjurus pada pemohon bantuan. Contohnya: kita sering kali meminta bantuan para imam atau orang lain agar didoakan.
Dalam konteks ini, mereka pun menjadi perantara namun bukan berarti mengesampingkan peranan Kristus sebagai mediator utama. Jadi dalam hal ini yang ingin disampaikan adalah Maria adalah perantara yang istimewa karena lebih dekat dan bersatu dengan Sabda inkarnasi dan sekaligus menjadi Ibunya.
Kita bisa melihat contoh peran mediasi Maria yang meminta bantuan kepada Yesus dalam narasi Kitab Suci tentang pernikahan di Kana Galilea, injil Yoh 2: 1-11. Intervensi Bunda Maria dalam mukjizat pertama Putranya bukanlah suatu kebetulan. Narasi pernikahan di Kana menyoroti peran kooperatif Maria dalam misi Tuhan Yesus.
Jadi doa dan pujian yang diberikan kepada Bunda Maria bukanlah bentuk penyembahan, melainkan penghormatan dan cinta sebagai Bunda Allah. Tidak diragukan lagi bahwa dia adalah wanita yang paling diberkati dan suci, dan karena alasan itu, Maria pantas untuk dicintai, dihormati, dan diteladani.
Seringkali juga ada suara-suara dari non Katolik mengatakan bahwa kita menyembah Maria ketika melihat kita mempersembahkan bunga, memberi lilin, dan mendupai patung atau gambar Bunda Maria.
Persembahan tersebut sekali lagi bukanlah bentuk penyembahan. Umat katolik tidak menyembah Patung ataupun gambar; sudah sangat jelas tertera dalam kitab Keluaran 20: 4-5.
Kalau kita melihat narasi kitab Bilangan 21:8 “Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup”.
Allah menyuruh Musa membuat patung sebagai simbol keselamatan dari kematian akibat gigitan ular, namun bukan sumber keselamatan atau keselamatan itu sendiri. Karena sesungguhnya keselamatan itu hanya ada pada Yesus Kristus.
Begitu pula dengan patung atau gambar Bunda Maria ataupun para santo, bukan untuk disembah melainkan untuk merangsang iman dan kepercayaan kita. Karena di balik patung atau gambar ada sosok yang menjadi panutan dalam hidup yang telah memberikan kesaksian hidup tentang iman dan kepercayaannya kepada Allah.
Ungkapan Iman Tidak Dibatasi Mata
Perlu diklarifikasi, ketika seorang Katolik berdoa dan di depannya ada sebuah gambar, ia tidak pernah berpikir untuk memohon pada gambar tersebut. Sekali lagi pada gambar tidak; pikiran kita tertuju pada orang yang berada di balik gambar itu.
Kita tidak pernah percaya atau mengajarkan bahwa gambar bisa berbicara, bisa melihat, ataupun berjalan. Bagi kita semuanya itu hanyalah representasi dari Yesus, Maria atau seorang santo santa.
Dan jika kita mencium, memberikan bunga, atau memberi lilin, mendupai, itu hanyalah suatu bentuk untuk mengekspresikan kasih kepada dia yang berada di balik gambar tersebut.
Ini juga sering terjadi dalam kehidupan kita. Jika kita melihat orang yang kita kasihi dalam sebuah foto, kita langsung mengenang sosok dalam foto tersebut, ada sebuah perasaan yang tersirat saat itu, bukan fotonya.
Jadi sekali lagi, gambar atau patung kudus hanyalah sebuah representasi, karena ungkapan iman tidak dibatasi dengan dipandang mata, melainkan lebih jauh dari itu.
Dengan ini saya akhiri, Katekismus Gereja Katolik menjelaskan bahwa ini adalah ibadah yang sama sekali berbeda dari penyembahan: no. 971.
"Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia" (Luk 1:48). "Penghormatan Gereja untuk Perawan Maria tersuci termasuk dalam inti ibadat Kristen" (MC 56). "Tepatlah bahwa ia dihormati oleh Gereja dengan kebaktian istimewa. Memang sejak zaman kuno santa Perawan dihormati dengan gelar 'Bunda Allah'; dan dalam segala bahaya dan kebutuhan mereka umat beriman sambil berdoa mencari perlindungannya... Kebaktian Umat Allah terhadap Maria... meskipun bersifat istimewa, namun secara hakiki berbeda dengan bakti sembah sujud, yang dipersembahkan kepada Sabda yang menjelma seperti juga kepada Bapa dan Roh Kudus, lagi pula sangat mendukungnya" (LG 66). Ia mendapat ungkapannya dalam pesta-pesta liturgi yang dikhususkan untuk Bunda Allah (Bdk. SC 103). Dan dalam doa marian - seperti doa rosario, yang merupakan "ringkasan seluruh Injil" (Bdk. MC 42)..”.
Ave Maria. Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria memberkati. ( Patrisius Frans Maria Bora. OSM)




