
Bacaan I:Yer. 23:1-6; Bacaan II:Ef.2:13-18; Bacaan Injil: Mrk. 6:30-34.
Minimal Saya Tidak Bunuh Diri
#1. Adalah seorang ibu yang sedang kalang kabut karena suaminya memiliki wanita idaman lain. Lebih dari itu, sang suami mengancam akan menceraikan ibu itu. Di tengah kepanikan, si ibu menelepon romo, minta waktu untuk berbicara. Si romo sibuk, menjanjikan pekan depan. Romo lain menolak karena “bukan wilayah tanggung jawabnya.” Pendek kata si ibu tidak bisa berkonsultasi dengan semua romo di parokinya. Juga dengan dua romo di paroki lain yang diteleponnya.
#2. Akhirnya romo keenam menjawab, “Baik, Ibu… mau berkonsultasi lewat telepon, atau bertemu.” Kalau mau via telepon, romo itu siap saat itu juga. Tapi akhirnya si ibu memilih bertemu, walaupun jauh, malam itu juga. Perceraian akhirnya memang tak terhindarkan, “Tetapi karena romo itu minimal saya tidak bunuh diri.”
#3. Dalam injil hari ini dikisahkan para murid kembali kepada Yesus dari tugas pelayanan, untuk melapor. Lantas Yesus bermaksud mengajak murid-muridnya untuk menyepi. Semacam retret, merenungkan karya mereka. Tetapi rencana mereka “terganggu” oleh banyak orang yang mencegat. Jelas Yesus melihat, orang banyak itu memerlukan Yesus dan para muridnya. Dan satu frasa muncul, “Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala.”
#4. Bacaan hari ini memang berbicara soal kegembalaan. Bacaan pertama bercerita tentang gembala yang tidak baik. Mereka dikutuk, karena membiarkan kambing domba “gembalaan-Ku” terserak. Sementara bacaan injil menyajikan ekstrim yang lain, yakni gambaran tentang gembala yang baik. Jika kita definisikan ulang, gembala baik menurut Markus adalah mereka yang karena tergerak oleh belas kasihan lantas bergerak melakukan sesuatu.
#5. Tugas untuk menjadi gembala yang baik, sebagaimana didengungkan oleh Keuskupan Agung Jakarta dalam beberapa tahun terakhir, bukanlah tugas eksklusif bagi para imam. Ini adalah tugas dan perutusan bagi semua pengikut Kristus. Kita semua diharapkan memiiki kepekaan terhadap persoalan-persoalan yang ada di sekitar. Tanpa kepekaan, hampir mustahil untuk “tergerak hatinya”, oleh persoalan yang dihadapi saudaranya. Bahkan ketika saudara itu sudah mengetuk pintu dan berteriak minta tolong sekalipun. (her).




