Kamis, 4 September 2014
1 Korintus 3:18-23
Mazmur 24:1-2, 3-4ab, 5-6
Lukas 5:1-11
“Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara diantara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat.”
(1 Korintus 3:18)
BOY terlahir dari keluarga berada dan diberikan kecerdasan lebih dari teman-temannya, ia selalu menjadi juara kelas,sedangkan Hasim adalah anak yang biasa saja, hidup dari keluarga yang pas-pasan. Sepuluh tahun telah berlalu, suatu ketika Boy mendatangi pemilik perusahaan yang akan bekerjasama dengan dia. Betapa terkejutnya dia saat bertemu dengan pemilik perusahaan yang tidak lain adalah Hasim. Dalam benaknya terbersit pertanyaan: Bagaimana mungkin si Hasim yang tidak lebih pintar dari dia, hidupnyapun hanya pas-pasan bisa menjadi pemilik perusahaan? Akhirnya merekapun menceritakan kehidupan mereka satu sama lain. Hasim menceritakan kehidupannya yang jatuh bangun, namun dia tidak pernah putus asa, dan dengan kegigihan dan kerja kerasnya, saat ini, membawa hasil yang luar biasa. Mendengar cerita Hasim, Boymerasa sangat malu, selama ini dia tidak pernah menghargai orang lain, merasa dirinya lebih dari orang lain. Kelebihan yang ia miliki tidak ia syukuri namun malah menjadikan ia orang yang sombong dan merasa dirinya adalah paling benar, paling tahu segalanya.
Jangan pernah berhenti untuk terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik hari demi hari, biarlah kelebihan yang kita miliki makin menjadikan kita pribadi yang penuh kasih dan rendah hati. [W_6nd]
Sudahkah kelebihan yang aku miliki, aku pergunakan untuk hal yang berguna tidak hanya bagiku namun bagi orang lain di sekelilingku?
DOA(†)
Tuhan ajarilah aku, agar dapat mempergunakan kelebihan yang aku miliki ini hanya untuk kemuliaan nama-Mu saja. Amin(†)




