Minggu, 4Agustus 2013
Hari Minggu XVIII Biasa
Pengkhotbah 1:2; 2:21-23
Mazmur 90:3-4,5-6,12-13,14,17
Kolose 3:1-5.9-11
Lukas 12:13-21
“Berjagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan,
sebab walaupun seorang berlimpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu”
(Lukas 12: 15)
TIDAK ada seorang pun yang menyangkal bahwa biaya hidup semakin hari semakin mahal. Dua puluh lima tahun yang lalu biaya sekolah TK hanya puluhan ribu rupiah, namun tahun 2013 sudah mencapai jutaan rupiah. Perubahan gaya hidup mulai dari kebiasaan makan, busana, gadget yang silih berganti menjadikan sebagian orang berpikir bahwa uang adalah hal utama yang harus dikumpulkan sebanyak-banyaknya. Ironisnya karena hal tersebut banyak orang menghalalkan segala cara, timbul rasa iri hati, menginginkan milik orang lain, tidak lagi bersyukur dengan apa yang dimiliki, dan protes tiada henti kepada Tuhan.
Kaya bukan hal yang salah, namun menjadikan kekayaan duniawi sebagai tujuan hidup dan menganggapnya sebagai sumber sukacita sejati akan membawa kita pada kehancuran. Berapa banyak pengusaha sukses yang mengalami depresi saat krisis moneter ataupun ketika saham yang dimilikinya anjlok? Mari kita menabung kekayaan dalam Yesus yang sifatnya abadi, dan membawa damai. Berlebihnya cinta, rasa syukur, iman, pengharapan, dan kerendahan hati menjadikan hidup semakin bernilai. [ew]
Mampukah aku menjadi kaya versi Yesus?
DOA (†)
Bapa, ingatkan kami untuk lebih mengejar kekayaan surgawi.Amin(†)




