Rabu, 27 Februari 2013
Yeremia 18:18-20
Mazmur 31:5-6,14,15-16
Matius 20:17-28
SEORANG selebritis dunia yang baru-baru ini datang ke Indonesia, mengajukan beberapa persyaratan untuk dekorasi kamar hotel tempat ia menginap. Ia meminta supaya kamarnya dihiasi bunga segar setiap hari, dan harus ada bodyguard yang berjaga 24 jam di depan pintu kamarnya, ditambah lagi dengan permintaan lain yang harus dituruti oleh si promotor, supaya sang selebriti ‘betah’ tinggal di negara kita.
Seorang misionaris yang melayani di daerah terpencil, menerima apa adanya tempat tinggal yang disediakan baginya. Bersyukur kalau dia ditempatkan di biara yang bersih dan layak ditempatkan, namun terkadang ia harus tinggal di rumah-rumah penduduk yang air dan listrik pun sulit sekali didapatkan.
Bagaimana pendapat teman-teman tentang dua hal ini? Seorang selebritis datang ke suatu tempat memang untuk ‘melayani’ penggemarnya namun dengan syarat ia juga harus ‘di-service / dilayani’ dengan baik, namun seorang misionaris datang ke tanah misinya untuk melayani penduduk sekitar, tanpa meminta imbalan sesuatu.
Hendaknya kita bisa mencontoh hidup seorang misionaris itu, kita memang tidak harus pergi ke daerah terpencil yang sulit air dan listrik, namun semangat melayani sesama yang membutuhkan harus selalu ada di dalam diri kita. Karena sama seperti Yesus datang ke dunia ini untuk melayani, dan bukan untuk dilayani. Selayaknya kita yang adalah anak-anak-Nya mencontoh sikap Yesus ini. [non]
Masihkah aku ingin melayani sesama meskipun tanpa imbalan?
DOA(†)
Yesus, jadikanlah hati kami seperti hati seorang hamba, tetap setia melayani Engkau. Amin(†)




