Rabu, 17 Oktober 2012
St. Ignatius dar Antiokhia
Filipi 3:17-4:1
Mazmur 34:2-3,4-5,6-7,8-9
Yohanes 12: 24-26
KETIKAYesus memasuki kota Yerusalem, Ia dielu-elukan sebagai raja. Semua orang bersorak “Hosana!” dan menyambut kedatangan Yesus dengan gembira. Namun, Yesus tahu bahwa inilah saatnya. Ia harus menderita sampai wafat. Itulah sebabnya Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Jikalau biji gandum itu tidak jatuh ke tanah dan mati, ia akan tinggal satu biji saja; tetapi jika ia mati, maka ia akan menghasilkan banyak buah.”
Yesus menyadari bahwa Ia harus merelakan nyawanya supaya seluruh manusia diselamatkan. Begitu juga dengan para martir yang rela mati demi nama Kristus sehingga akhirnya banyak orang yang bertobat. Jika Yesus tidak wafat di kayu salib, maka sampai detik ini kita semua masih hidup dalam kegelapan karena tidak ada yang mengalahkan maut. Dengan wafat dan kebangkitan-Nya, kita menjadi anak-anak terang.
Unsur kata “berkorban” itu sangat penting. Bagi kita yang melayani Tuhan dan sesama, berkorban adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Namun ada cinta berarti ada pengorbanan. Itulah yang ditunjukkan Yesus kepada kita semua. Sekarang saatnya kita untuk membalas pengorbanan Yesus. Bukan berarti kita juga harus mati, tetapi terlebih penting kita harus bisa mengorbankan ego dan keinginan daging kita supaya kita dapat sungguh-sungguh melayani Dia.[tj]
Sudahkah kita mengorbankan ego dan kesenangan kita untuk melayani Tuhan?
DOA(†)
Tuhan, berikan kami semangat untuk berkorban seperti Engkau berkorban untuk menyelamatkan kami.Amin(†)




