Rabu, 10 Oktober 2012
Galatia2:1-2,7-14
Mazmur 117:1,2
Lukas11:1-4
SAYA memiliki seorang teman yang senantiasa bersyukur. Rasanya belum pernah saya bertemu dengan orang yang lebih sering bersyukur daripada teman saya ini. Teman saya ini memiliki cacat fisik dan saya pernah bertanya, apakah ia khawatir mengenai masalah jodoh sehubungan dengan penyakitnya ini. Dengan enteng ia menjawab: “Tidak apa-apa, berarti kalau sampai ada yang mau dengan saya, dia benar-benar cinta saya. Anggap saja penyakit ini sebagai alat bantu untuk memilih jodoh”. Dan saat ini dia telah menikah dan berbahagia!
Kalau dibandingkan dengan diriku , rasanya koq berbeda jauh ya. Sering saya menggerutu mengenai hal-hal kecil, membesarkan hal-hal yang tidak perlu dan merasa kesal dengan keadaan saya sendiri, padahal sebenarnya kehidupan saya indah dan baik. Sering saya mengandaikan saya memiliki kepandaian lebih, ketampanan lebih (he..he..he), atau suara yang lebih oke. Saya menggerutu atas berkat Tuhan atas hidupku, sementara teman saya dapat bersyukur atas kekurangannya.
Tuhan memiliki rencana atas kehidupan kita, baik untung maupun malang. Sama seperti Tuhan memakai ketekunan Santo Petrus, Tuhan dapat juga memakai orang yang menyakiti hati-Nya seperti Santo Paulus. Tidak ada satu hal pun yang sia-sia, karena segala kesia-siaan kita telah ditebusnya diatas Salib suci! [718]
Apakah aku selalu menyesali kekuranganku…?
DOA(†)
Tuhan, aku mau jadi bejana-Mu yang indah dan kupersembahkan setiap kekuranganku kepada hati-Mu.Amin(†)




