Sabtu, 18 Agustus 2012
Yehezkiel18:1-10,13b,30-32
Mazmur51:12-13,14-15,18-19
Matius19:13-15
TUHAN menempatkan kita di bumi untuk membentuk perilaku kita sesuai apa yang Ia inginkan. Inti dari keinginan Yesus adalah menjadikan kita semurni anak-anak.
Memang sih terkadang anak-anak menjengkelkan. Contohnya hal yang saya hadapi adalah ‘dikeroyoki’ anak-anak di suatu tempat les karena mereka ingin bermain dengan ponsel saya. Pada saat perebutan ponsel tersebut, hampir saja ponsel saja jatuh dan ingin saya berteriak dan mengusir mereka. Tetapi kalau dipikir, anak-anak ini kan tidak bersalah. Hanya ingin bermain di ponsel saya. Mengapa jadi saya yang terpancing untuk marah. Toh mereka tidak berbuat sesuatu yang salah. Tuhan telah mengajarkan suatu pelajaran pengendalian emosi terhadap saya. Sehingga saya dimampukan tidak marah atas gangguan tersebut malah saya meminjamkannya secara bergiliran dan suasana pun kembali menjadi aman.
Coba kalau tadi saya memanjakan amarah saya. Banyak hal yang jauh lebih buruk pasti terjadi di tempat les itu. Pastilah anak-anak akan takut pada saya, belum lagi saya berurusan dengan orang tua mereka jika anak-anak tersebut mengadu. Jadi pelajaran-pelajaran seperti inilah yang justru kita harus perhatikan baik-baik. Tuhan meminta ‘kepolosan’ kita dalam menghadapi apapun. Amarah bukan sifat anak-anak. Maka kita harus selalu berpikir positif dan melakukan segalah hal secara tulus sehingga seberapapun menyebalkannya seseorang terhadap kita, kita tidak akan pernah terpengaruh oleh perbuatan orang itu. [j$]
Apa sih untungnya kalau kita meladeni kedagingan kita?
DOA(†)
Tuhan Yesus, terima kasih atas Daging-Mu yang telah menguasai dagingku dan Darah-Mu yang menaklukan jiwaku. Amin(†)




