Minggu, 19 Februari 2011
Minggu Biasa VII
Yesaya 43:18-19, 21-22,24b-25
Mazmur41:2-3,4-5,13-14
2Korintus1:18-22
Markus2:1-12
MANUSIA senang berpikir lewat akalnya. Kuatir rugi, gitu loh.
Tuhan baru saja menempatkan saya pada posisi sulit. Saya dihadapkan pada pilihan“melanjutkan”menjadi tim penulis renungan ini atau tidak. Rasa takut yang besar menyelimuti saya, karena saya sedang berada di penghujung studi (kelas 3 SMA). Praktis tumpukan try out dan persiapan ujian membebani saya. Hikmat dunia dalam pikiran saya berkata “stop” saja, karena menyita waktu belajar. Tetapi.. adanya dorongan dari hati (yang susah saya tuangkan secara tertulis), mengarahkan saya “tidak sanggup menolak” tawaran ini. Dorongan itu tidak mampu saya kendalikan hingga akhirnya mengarahkan saya pada keputusan melanjutkan menulis. Apa yang terjadi?... justru nilai-nilaia kademik yang saya peroleh lebih meningkat dari sebelumnya.
Ini adalah perjalanan rohani yang bernilai tinggi. Saya ‘dipaksa’ Tuhan membagikankebaikan-Nya lewat tulisan yang ternyata menghasilkan buah terbaik untuk saya nikmati. Saya yakin semua orang pernah berada pada posisi sulit. Nikmati Roh Allah yang ada pada kita menghadapinya atas nama kita. [j$]
Beranikah kita biarkan DIA bekerja dalam kita?
DOA (†)
Terima kasih Bapa, atas segala sesuatu yang indah yang telah Kau tentukan bagiku. Amin(†)




