Sabtu, 18 Februari 2011
Yakobus 3:1-10
Mazmur 12:2-3,4-5,7-8
Markus 9:2-13
TEMAN-TEMAN, bandingkan 2 percakapan ini…
Percakapan 1:” Eh, udah coba makan mie di deke trumah gw belom? Enak banget lho… Ada mie kecil, mie lebar sama kwetiau. Trus yang paling bikin nikmatnya tuh ada jeruk limaunya… diperes beuhh lekkeer bin segeer.”
Percakapan 2:” Gw kasih tau ya, janga nsekali-kali beli makanan di tempat itu. Tempatnya jorok banget, makanannya ga enak, ya udah pasti ga sehat. Lagipula harganya ga murah tuh. Pedagangnya juga mata duitan. Pokoknya jangan pernah ke sana deh.”
Guys, kedua percakapan di atas kerap keluar dari mulut yang sama. Mulut kita dapat menjadi hal yang dapat membangun, juga dapat menjadi factor untuk menjatuhkan. Di kitab Yakobus dijelaskan bagaimana seorang harus bicara agar tidak menghasilkan dampak negatif. Lewat ucapan, tanpa kita sadari telah mencemarkan diri kita sendiri maupun orang lain.
Terbukti kalau kita sering lemah dalam mengontrol perkataankita. So penyerahan hidup kita pada Tuhan harus termasuk aspek penyerahan dalam bertutur kata. [j$]
Apakah aku telah mengeluarkan perkataan yang memberkati orang lain hari ini?
DOA (†)
Bapa, kuserahkan lidah dan mulutku ini untuk Kau pakai memberkati kehidupan bagi sesama. Amin(†)




