Imam selebran utama merentangkan tangannya, sambil mengucapkan rumusan iman Gereja: Sungguh kuduslah Engkau, ya Bapa, sumber segala kekudusan. Ia mengatup tangan kemudian, sambil mengulurkan tangan di atas roti dan anggur, ia berkata: Maka kami mohon, kuduskanlah persembahan ini dengan pencurahan roh-Mu, agar bagi kami menjadi Tubuh dan + Darah Putera-Mu terkasih Tuhan kami, Yesus Kristus.
Makna dari epiklesis ini ialah sebagai permohonan khusus Gereja dalam memanggil atau memohon kuasa Roh Kudus atas roti dan anggur yang dipersembahkan oleh tangantangan manusia supaya dikuduskan menjadi Tubuh dan Darah Kristus, dan supaya kurban murni yang diterima dalam komuni menjadi sumber keselamatan bagi mereka yang akan mengambil bagian dalam kesatuan dengan Kristus Tuhan [PUMR 79].
Pada akhir prefasi, imam mengatupkan tangan, mengajak seluruh umat beriman yang hadir sekarang dan semua yang hidup di bumi ini bersatu dengan para malaikat dan semua orang kudus di surga, bersama-sama memuji dan memuliakan Allah dengan sehati dan sesuara menyanyikan sanctus – kudus [PUMR 79]: Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa. Surga dan bumi penuh kemuliaan-Mu. Terpujilah Engkau di surga. Diberkatilah yang datang dalam nama Tuhan. Terpujilah Engkau di surga.
Aklamasi Sanctus – Kudus adalah aklamasi seluruh umat atas karya penciptaan Allah dan penyelamatan Allah melalui kurban diri Yesus Kristus Putera-Nya menguduskan manusia dari noda dosa, yang telah dikisahkan dalam rumusan prefasi. Karena perbuatan Allah yang agung, mulia dan dahsyat inilah maka seluruh umat beriman di bumi bersatu dengan seluruh kekuatan surgawi, menyanyikan sanctus demi kemuliaan Allah. Aklamasi Kudus ini merupakan salah satu unsur pokok pembentuk Doa Syukur Agung. Karena merupakan seruan umat maka semestinya dinyanyikan oleh seluruh umat bersama dengan imam (selebran utama) dan paduan suara. Sesudah menyanyikan Aklamasi Kudus, Doa Syukur Agung diteruskan oleh imam selebran utama dan para imam konselebran seturut petunjuk atau rubrik dalam setiap Doa Syukur Agung.
Sebaliknya, bila tidak ada petunjuk khusus, maka hanya imam (selebran utama) saja yang melakukan gerak-gerik dan kata yang disarankan dalam Doa Syukur Agung [PUMR 217].
Doa Syukur Agung dimulai dengan dialog pembuka antara imam (selebran utama) dan seluruh umat beriman. Imam berdiri di belakang altar mengarah ke umat, begitu juga seluruh umat berdiri mengarahkan perhatian kepadanya. Imam merentangkan tangan menyanyikan atau mengucapkan: Tuhan bersamamu (Dominus vobiscum), seluruh umat beriman menanggapi dengan menyanyikan atau mengucapkan: Dan bersama rohmu (Et cum spiritu tuo). Selanjutnya sambil mengangkat tangan imam melanjutkan dengan ajakan: Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan (Sursum corda) dan seluruh umat beriman menjawab: Sudah kami arahkan (Habemus ad Dominum). Kemudian, sambil merentangkan tangan imam melanjutkan dengan menyanyikan atau mengucapkan: Marilah bersyukur kepada Tuhan Allah kita (Gratias agamus Domino Deo nostro) dan seluruh umat beriman menjawab: Sungguh layak dan sepantasnya (Dignum et iustum est).
Makna liturgis dari dialog pembuka ini ialah bahwa seluruh umat beriman dihantar untuk mengarahkan hati dan pikiran dirinya kepada Tuhan Allah. Dengan cara akan terlibat secara konkrit dalam gerak-gerik dan kata bersatu dalam setiap bagian Doa Syukur Agung, yang diproklamasikan oleh imam atas nama Gereja kepada Allah Bapa. Dengan kata lain, umat beriman yang adalah anggota Tubuh Mistik Kristus bersatu dengan Kristus kepala Tubuh Mistik memuji perbuatan Allah yang agung dalam diri Kristus. Sebab itu, Gereja bersatu dengan Kristus mempersembahkan kurban (pujian dan syukur) kepada Allah.
Prefasi
Kemudian, imam sambil tetap merentangkan tangan melagukan atau mengucapkan prefasi berikut: Sungguh layak dan sepantasnya, Bapa yang kudus, Allah yang kekal dan kuasa, kami senantiasa bersyukur kepada-Mu dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putera-Mu yang terkasih. Dialah Sabda-Mu. Dengan Sabda-Mu itu, Engkau menciptakan alam semesta. Dialah Juru Selamat yang Engkau utus untuk menebus kami. Dengan kuasa Roh Kudus, Ia menjadi manusia dan dilahirkan oleh Perawan Maria. Untuk melaksanakan kehendak-Mu dan untuk menghimpun umat kudus bagi-Mu, Ia merentangkan tangan-Nya di kayu Salib agar belenggu maut dipatahkan dan cahaya kebangkitan dipancarkan.
Praefatio yang berarti prefasi yang merupakan permulaan dari Doa Pujian Gereja universal kepada Allah Bapa karena seluruh karya keselamatan yang diselenggarakan dalam diri Yesus Kristus, Tuhan. Isi dari rumusan setiap prefasi ialah mengungkapkan alasan-alasan seluruh umat beriman berkumpul untuk memuliakan Allah karena karya penciptaan-Nya dan penebusan-Nya bagi umat manusia. Makna doa pujian ini menyatakan rasa syukur semua umat beriman atas seluruh karya penyelamatan Allah. Gereja universal mempersembahkan puji-syukur atas karya agung Allah melalui pengalaman kesaksian harian Masa Biasa, Peringatan dan Pesta Santu dan Santa serta orang kudus lain, Hari Raya Gereja dan Masa Khusus atau Peristiwa-peristiwa khusus sesuai Tahun Liturgi dan tradisi Gereja (lih.TPE 2005: 61 Prefasi). Misalnya, pada perayaan Petakosta prefasi yang dinyanyikan atau diucapkan oleh imam adalah prefasi Pentakosta.
Pada akhir prefasi, imam mengatupkan tangan, mengajak seluruh umat beriman yang hadir sekarang dan semua yang hidup di bumi ini bersatu dengan para malaikat dan semua orang kudus di surga, bersama-sama memuji dan memuliakan Allah dengan sehati dan sesuara menyanyikan sanctus – kudus [PUMR 79]: Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa. Surga dan bumi penuh kemuliaan-Mu. Terpujilah Engkau di surga. Diberkatilah yang datang dalam nama Tuhan. Terpujilah Engkau di surga.
Aklamasi Sanctus – Kudus adalah aklamasi seluruh umat atas karya penciptaan Allah dan penyelamatan Allah melalui kurban diri Yesus Kristus Putera-Nya menguduskan manusia dari noda dosa, yang telah dikisahkan dalam rumusan prefasi. Karena perbuatan Allah yang agung, mulia dan dahsyat inilah maka seluruh umat beriman di bumi bersatu dengan seluruh kekuatan surgawi, menyanyikan sanctus demi kemuliaan Allah. Aklamasi Kudus ini merupakan salah satu unsur pokok pembentuk Doa Syukur Agung. Karena merupakan seruan umat maka semestinya dinyanyikan oleh seluruh umat bersama dengan imam (selebran utama) dan paduan suara. Sesudah menyanyikan Aklamasi Kudus, Doa Syukur Agung diteruskan oleh imam selebran utama dan para imam konselebran seturut petunjuk atau rubrik dalam setiap Doa Syukur Agung.
Sebaliknya, bila tidak ada petunjuk khusus, maka hanya imam (selebran utama) saja yang melakukan gerak-gerik dan kata yang disarankan dalam Doa Syukur Agung [PUMR 217].
Doa Syukur Agung dimulai dengan dialog pembuka antara imam (selebran utama) dan seluruh umat beriman. Imam berdiri di belakang altar mengarah ke umat, begitu juga seluruh umat berdiri mengarahkan perhatian kepadanya. Imam merentangkan tangan menyanyikan atau mengucapkan: Tuhan bersamamu (Dominus vobiscum), seluruh umat beriman menanggapi dengan menyanyikan atau mengucapkan: Dan bersama rohmu (Et cum spiritu tuo). Selanjutnya sambil mengangkat tangan imam melanjutkan dengan ajakan: Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan (Sursum corda) dan seluruh umat beriman menjawab: Sudah kami arahkan (Habemus ad Dominum). Kemudian, sambil merentangkan tangan imam melanjutkan dengan menyanyikan atau mengucapkan: Marilah bersyukur kepada Tuhan Allah kita (Gratias agamus Domino Deo nostro) dan seluruh umat beriman menjawab: Sungguh layak dan sepantasnya (Dignum et iustum est).
Makna liturgis dari dialog pembuka ini ialah bahwa seluruh umat beriman dihantar untuk mengarahkan hati dan pikiran dirinya kepada Tuhan Allah. Dengan cara akan terlibat secara konkrit dalam gerak-gerik dan kata bersatu dalam setiap bagian Doa Syukur Agung, yang diproklamasikan oleh imam atas nama Gereja kepada Allah Bapa. Dengan kata lain, umat beriman yang adalah anggota Tubuh Mistik Kristus bersatu dengan Kristus kepala Tubuh Mistik memuji perbuatan Allah yang agung dalam diri Kristus. Sebab itu, Gereja bersatu dengan Kristus mempersembahkan kurban (pujian dan syukur) kepada Allah.
Prefasi
Kemudian, imam sambil tetap merentangkan tangan melagukan atau mengucapkan prefasi berikut: Sungguh layak dan sepantasnya, Bapa yang kudus, Allah yang kekal dan kuasa, kami senantiasa bersyukur kepada-Mu dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putera-Mu yang terkasih. Dialah Sabda-Mu. Dengan Sabda-Mu itu, Engkau menciptakan alam semesta. Dialah Juru Selamat yang Engkau utus untuk menebus kami. Dengan kuasa Roh Kudus, Ia menjadi manusia dan dilahirkan oleh Perawan Maria. Untuk melaksanakan kehendak-Mu dan untuk menghimpun umat kudus bagi-Mu, Ia merentangkan tangan-Nya di kayu Salib agar belenggu maut dipatahkan dan cahaya kebangkitan dipancarkan.
Praefatio yang berarti prefasi yang merupakan permulaan dari Doa Pujian Gereja universal kepada Allah Bapa karena seluruh karya keselamatan yang diselenggarakan dalam diri Yesus Kristus, Tuhan. Isi dari rumusan setiap prefasi ialah mengungkapkan alasan-alasan seluruh umat beriman berkumpul untuk memuliakan Allah karena karya penciptaan-Nya dan penebusan-Nya bagi umat manusia. Makna doa pujian ini menyatakan rasa syukur semua umat beriman atas seluruh karya penyelamatan Allah. Gereja universal mempersembahkan puji-syukur atas karya agung Allah melalui pengalaman kesaksian harian Masa Biasa, Peringatan dan Pesta Santu dan Santa serta orang kudus lain, Hari Raya Gereja dan Masa Khusus atau Peristiwa-peristiwa khusus sesuai Tahun Liturgi dan tradisi Gereja (lih.TPE 2005: 61 Prefasi). Misalnya, pada perayaan Petakosta prefasi yang dinyanyikan atau diucapkan oleh imam adalah prefasi Pentakosta.