Seri 10
ROH KUDUS PENAFSIR KITAB SUCI
Penafsiran yang benar terhadap Kitab Suci menuntut niat terhadap apa yang para penulis ingin mengatakan dan apa yang Allah ingin menyatakan. Menemukan niat para penulis menuntut suatu studi budaya, cara-cara bernarasi, dan perbedaan bentuk-bentuk penulisan secara historis, puisi, nubuat, dan seterusnya.
Penafsiran Kitab Suci dalam terang Roh Kudus yang menulis Kitab Suci. Penafsiran yang benar mengisyaratkan bahwa pembaca: Pertama, memperhatikan isi dan kesatuan dari seluruh Kitab Suci. Rencana Allah dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memiliki kesatuan dalam Kristus. Kedua, membaca dalam terang Tradisi Suci Gereja yang hidup, seturut makna spiritual sebagaimana Roh Kudus mengkaruniakannya kepada Gereja. Ketiga, memakai analogi iman untuk menyelaraskan seluruh kebenaran dalam Kitab Suci, Tradisi Suci dengan rencana Allah.
Arti Kitab Suci terdiri dari arti harafiah dan arti rohani. Arti rohani antara lain: Pertama, arti alegoris: kita dapat memperoleh satu pengertian yang lebih dalam mengenai kejadian-kejadian, apabila kita mengetahui arti yang diperoleh peristiwa itu dalam Kristus. Contoh, penyebrangan Laut Merah adalah tanda kemenangan Kristus dan dengan demikian tanda pembaptisan. Kedua, arti moral: kejadian-kejadian yang dibicarakan dalam Kitab Suci menasehati kita untuk melakukan yang baik. Hal-hal itu ditulis sebagai contoh bagi kita, sebagai peringatan (1 Korintus 10:11). Ketiga, arti anagogis: kita dapat melihat kenyataan dan kejadian dalam artinya yang baik, yang menghantar kita ke atas, ke tanah air abadi (Yunani: anagoge). Misalnya, Gereja di bumi ini adalah lambang Yerusalem surgawi (bdk. Wahyu 21:1-225). Keempat, arti harafiah tercantum dalam kata-kata Kitab Suci dan ditemukan oleh eksegese, yang berpegang pada peraturan penafsiran teks secara tepat. Dan tiap-tiap arti rohani itu berakar di dalam arti harafiah.
Distikon dari abad pertengahan menyimpulkan keempat arti Kitab Suci sebagai berikut: “Littera gesta, quid credas allegoria Moralis quid agas, quo tendas anagogia.” Huruf mengajarkan kejadian: apa yang harus kamu percaya (alegori) apa yang harus kamu lakukan (moral) ke mana kamu harus berjalan (anagogi).
Bersambung ... P. Tinus Sirken, O.S.C..




