Seri 41
YESUS KRISTUS DIBANGKITKAN
Kebangkitan Kristus adalah suatu peristiwa nyata, secara historis dibenarkan dalam Perjanjian Baru. Sekitar abad 56 SM, rasul Paulus menulis bahwa Kristus yang dimakamkan telah dibangkitkan pada hari ketiga, sesuai dengan Kitab Suci (1 Korintus 15:3-4). Paulus juga mendengar berbagai macam kesaksian Kayafas dan kedua belas murid, kepada mereka Yesus menampakkan diri- Nya (Kisah Rasul 9:3-18).
Makam kosong adalah unsur pertama dari cerita Paskah. Sangat jelas, makam kosong bukan bukti langsung tentang kebangkitan Kristus sebab tubuh Yesus yang tidak ada dapat dijelaskan dengan cara yang lain. Namun, makam kosong itu adalah suatu bukti yang sangat penting untuk semua orang. Penemuan para murid mengenai kebangkitan dimulai oleh perempuan-perempuan kudus, bersama Petrus, dan khsusnya bersama murid yang dikasihi Yesus. Murid yang dikasihi Yesus melihat dan percaya. Ia adalah murid yang pertama menyadari bahwa tubuh (jenazah) Yesus tidak ada bukan karena diambil oleh manusia, dan bahwa Yesus tidak kembali ke kehidupan duniawi seperti Lazarus (Yohanes 11:14).
Maria Magdalena dan perempuan-perempuan kudus adalah yang pertama menemukan “Yang telah Bangkit” (Markus 16:1). Mereka menjadi pembawa berita pertama tentang kebangkitan kepada Petrus dan keduabelas murid. Kemudian berdasarkan kesaksian Petrus, persekutuan itu mengatakan, sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakan Diri-Nya kepada Simon (Lukas 24:34).
Peristiwa penampakan tersebut menjadikan para Rasul sebagai saksi Kebangkitan dan landasan Gereja Kristus. Iman umat pertama berdasarkan kesaksian manusia yang dikenal dan kebanyakan dari mereka masih hidup. Selain Petrus dan keduabelas murid (saksi utama), Paulus sebutkan kesaksian lain dan lebih dari lima ratus orang, kepada mereka Yesus menampakan diri sekaligus. Ia juga menampakan diri kepada Yakobus dan semua Rasul (1 Korintus 15:6).
Kesaksian-kesaksian tadi membuat kita sadar bahwa kebangkitan adalah fakta sejarah. Iman para murid harus mengalami ujian yang luar biasa beratnya, yakni kesengsaraan dan penyaliban Guru mereka. Beberapa dari para murid digoncangkan oleh kesengsaraan itu, sehingga mereka tidak begitu saja mempercayai berita mengenai Yesus yang bangkit memperlihatkan diri kepada kesebelas murid, Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, karena tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya (Markus 16:14).
Yesus yang bangkit mengundang para murid untuk meraba tubuh-Nya dan makan bersama Dia. Mereka dapat melihat dan percaya bahwa Ia memiliki tubuh, yang sama dengan disaksikan dan disalibkan, karena Ia masih menunjukan bekas-bekas kesengsaraan-Nya. Tubuh yang benar dan sungguh-sungguh ini serentak pula memiliki sifat-sifat tubuh baru yang sudah dimuliakan: Yesus tidak lagi terikat pada tempat dan waktu, tetapi dapat ada sesuai dengan kehendak-Nya. Kodrat manusiawi-Nya tidak dapat ditahan lagi di dunia dan sudah termasuk dunia ilahi Bapa-Nya. Atas dasar ini, maka Yesus yang bangkit juga bebas untuk menampakan diri (Markus 16:12) dari bentuk yang sudah terbiasa bagi para murid, agar iman para murid mau dibangkitkan.
Yesus membangkitkan tiga orang dari kematian (putri Yairus, pemuda Naim dan Lazarus). Ketiganya kembali ke kehidupan duniawi, dan pada waktunya mereka akan mati lagi. Kebangkitan Kristus memang lain sifatnya. Dalam tubuh yang bangkit Ia keluar dari keadaan mati dan beralih ke suatu kehidupan lain di luar batas waktu dan ruang. Tubuh Kristus dipenuhi dengan kekuasaan Roh Kudus pada saat kebangkitan; dalam keadaan yang dimuliakan itu, Ia mengambil bagian dalam kehidupan ilahi, sehingga rasul Paulus mengajarkan bahwa Kristus sebagai “manusia surgawi” (1 Korintus 15:45-50).
Kebangkitan terjadi karena pribadi Kristus tetap bersatu. Badan dan jiwa-Nya yang oleh kematian sudah dipisahkan satu dari yang lain, berkat kesatuan kodrat ilahi, yang tetap hadir di dalam kedua bagian hakiki manusia, maka keduanya mempersatukan diri lagi. Dengan demikian, kematian terjadi oleh pemisahan susunan manusiawi dan kebangkitan terjadi oleh penyatuan kembali kedua bagian yang terpisah (Santo Gregorius dari Nisa).
Bersambung ... P. Tinus Sirken, O.S.C..




