Seri 34
MARIA MENGANDUNG DARI ROH KUDUS
Santa Perawan Maria menerima kabar gembira membuka “kepenuhan waktu” (Galasia 4:4). Ialah Maria mengandung Yesus yang melalui-Nya akan tinggal seluruh kepenuhan ke-allah-an secara jasmaniah (Kolose 2:9). Dari Roh Kudus, Maria mengandung Putra Bapa yang kekal dalam kemanusiaan yang ditarik dari dirinya sendiri. Putra Bapa yaitu Kristus, diurapi oleh Roh Kudus dari permulaan. Maka keseluruhan hidup Yesus mewahyukan Allah dengan kuasa Roh Kudus (Kisah Rasul 10:38).
Dengan demikian, ajaran Gereja mengenai Maria berakar dalam iman Gereja mengenai Kristus. Dalam mempersiapkan tubuh bagi Yesus (Ibrani 10:5). Allah menginginkan satu makhluk bekerjasama dalam kebebasan. Allah memilih Maria menjadi ibu Putra-Nya. Seperti dahulu seorang perempuan (Hawa) telah mendatangkan maut, sekarang pun perempuanlah yang mendatangkan kehidupan (Lumen Gentium 56).
Sepanjang Perjanjian Lama panggilan Maria sudah dipersiapkan oleh banyak perempuan kudus. Hawa menerima janji mendapatkan keturunan yang akan mengalahkan yang jahat. Ia disebut ibu dari segala yang hidup (Kejadian 3:15, 20). Sarah dan Hana mengandung anak-anak dalam usia tua. Di antara semua perempuan, Maria adalah yang unggul di tengah umat Tuhan yang rendah dan miskin, dan rencana penyelamatan baru dibangun di dalam dia (Lumen Gentium 55).
Maria mengandung tanpa dosa. Gereja menjadi sadar bahwa Maria dipenuhi dengan rahmat oleh Allah (Lukas 1:28). Gereja menyadari bahwa kepenuhan rahmat berarti Maria sejak saat pertama ia dikandung, dikaruniai cahaya kekudusan, Maria sejak peristiwa pertama ini, dirinya tanpa dosa berkat Yesus Kristus, ia dibebaskan dari segala noda dosa asal (Paus Pius IX, 1854).
Allah memberkati Maria dalam Kristus dengan setiap berkat rohani dan memilih dia dalam Kristus sebelum dunia dijadikan, menjadi kudus dan tak bersalah (Efesus 1:3-4). Gereja Timur menyebut Maria “yang suci sempurna” dan mengatakan bahwa ia bebas dari segala noda dosa, seola-ola dibentuk oleh Roh Kudus dan dijadikan makhluk baru (Lumen Gentium 56). Karena rahmat Allah, Maria bebas dari setiap dosa pribadi selama hidupnya.
Maria menanggapi dengan ketaatan iman. “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu” (Lukas 1:37-38). Ia memberikan keseluruhan dirinya kepada kerja Putranya. Para pujangga Gereja menyebut Maria, “bunda segala yang hidup.” Kematian datang melalui Hawa dan kehidupan melalui Maria (Santo Hieronimus).
Maria dipandang sebagai “Ibu Yesus”. Namun, Elizabet didorong oleh Roh Kudus, dengan tepat ia menyebut Maria “Ibu Tuhanku” (Lukas 1:43) sebab ia mengandung Pribadi kedua dari Tritunggal mahakudus. Gereja mengakui bahwa Maria sesungguhnya Bunda Allah, “Theotokos” yang melahirkan Allah. (Konsili Efesus).
Gereja mengajarkan bahwa Yesus dikandung dari Roh Kudus tanpa benih manusiawi (Konsili Lateran). Keprawanan yang tak bernoda ini tanda bahwa Yesus sungguh-sungguh anak Allah. Yesus adalah “keturunan Daud menurut daging, Putra Allah menurut kehendak dan kuasa Allah, sesungguhnya dilahirkan dari seorang perawan (Santo Ignasius dari Antiokia, abad 2).
Iman gereja tentang Maria yang tetap perawan, menghantar Gereja kepada pengakuan bahwa Maria tetap perawan, pada waktu kelahiran Putra Allah yang menjadi manusia. Putranya tidak mengurangi keutuhan keperawanannya, melainkan menyucikannya (Lumen Gentium 57).
Kelahiran perawan menyoroti Pribadi Kristus dan misi penyelamatan-Nya. Perawan Maria memperlihatkan inisiatif Allah yang absolut melalui inkarnasi. Ia adalah Putra Bapa dalam kodrat ke-allah-an dan dalam kodrat manusiawi (Konsili Friaul, 696).
Yesus memulai zaman baru yaitu, kelahiran baru dalam Roh Kudus yang membuat manusia menjadi anak-anak Allah melalui iman. Hidup baru ini datang bukan dari darah atau dari daging, bukan pula oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan Allah (Yohanes 1:16). Maria adalah simbol yang sempurna bagi Gereja yang menerima Sabda Allah dalam iman dan melahirkan anak dalam Roh Kudus.
Bersambung ... P. Tinus Sirken, O.S.C..




