Seri 32
SUNGGUH ALLAH SUNGGUH MANUSIA
Yesus Kristus bukan sebagiannya Allah dan bukan sebagiannya manusia, atau bukan merupakan percampuradukan yang tidak jelas antara yang ilahi dan yang manusiawi. Yesus Kristus adalah Allah benar dan manusia benar. Gereja harus membela dan menjelaskan kebenaran iman ini terhadap bidaah yang menafsirkannya secara salah.
Bidaah Doketisme Gnostis menyangkal kemanusiaan Yesus. Namun, Konsili Antiokia mengajarkan bahwa inkarnasi benar dari Putra Allah yang datang mengenakan daging. Yesus adalah Putra Allah menurut kodrat-Nya dan bukan melalui adopsi.
Bidaah Arius mengatakan bahwa Yesus “Putra Allah dari ketiadaan” dan “dari substansi atau hakikat yang lain” daripada Bapa. Melawan bidaah Arius, dalam kredo Konsili Nisea 325, Gereja mengakui bahwa Yesus adalah Putra Allah, dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat (homousios) dengan Bapa.
Bidaah Nestorian mengatakan bahwa Yesus adalah manusia yang digabungkan dengan pribadi Putra Allah yang ilahi. Melawan Nestorius, Gereja (Konsili Efesus 431) mengatakan bahwa dalam Kristus hanya terdapat satu pribadi, Pribadi Ilahi yang menjadi manusia dengan “menyatukan untuk Diri-Nya sendiri dalam Pribadi-Nya daging yang dijiwai oleh jiwa rasional” (by uniting to himself in his person the flesh animated by a rational soul). Maria diumumkan “Bunda Allah” sebab darinya Sabda menerima Tubuh-Nya, dijiwai oleh jiwa rasional. Oleh karena itu, disebut “Sabda dilahirkan menurut daging.”
Bidaah Monofisitisme mengatakan bahwa kodrat manusiawi Yesus terlebur ketika kodrat itu diterima oleh Pribadi ilahi- Nya. Namun, Gereja mengakui bahwa Yesus telah diperanakkan dari Bapa sebelum segala abad sebagai Putra-Nya dan pada zaman ini Ia dilahirkan oleh Perawan Maria Bunda Allah. Dalam Kristus terdapat dua kodrat, tidak tercampur, tidak berubah, tidak terpisah, tidak dibagi-bagikan. Perbedaan antara kodrat tidak pernah dihilangkan oleh persatuan mereka (Konsili Kalsedon, 451). Melawan bidaah-bidaah ini, Gereja (Konsili Komstantinopel 553) mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada pada kodrat manusiawi Kristus harus dikenakan kepada Pribadi ilahi-Nya sebagai pembawa-Nya yang sebenarnya, bahkan penderitaan dan kematian-Nya. Yesus Kristus adalah Allah benar, Tuhan mulia dan satu Tritunggal.
Yesus adalah sungguh Allah sungguh manusia secara tidak terpisahkan. Ia sesungguhnya Putra Allah, yang menjadi manusia dan tetap Allah: Ia tetap Allah, namun sekaligus juga manusia sejati.
Bidaah Doketisme Gnostis menyangkal kemanusiaan Yesus. Namun, Konsili Antiokia mengajarkan bahwa inkarnasi benar dari Putra Allah yang datang mengenakan daging. Yesus adalah Putra Allah menurut kodrat-Nya dan bukan melalui adopsi.
Bidaah Arius mengatakan bahwa Yesus “Putra Allah dari ketiadaan” dan “dari substansi atau hakikat yang lain” daripada Bapa. Melawan bidaah Arius, dalam kredo Konsili Nisea 325, Gereja mengakui bahwa Yesus adalah Putra Allah, dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat (homousios) dengan Bapa.
Bidaah Nestorian mengatakan bahwa Yesus adalah manusia yang digabungkan dengan pribadi Putra Allah yang ilahi. Melawan Nestorius, Gereja (Konsili Efesus 431) mengatakan bahwa dalam Kristus hanya terdapat satu pribadi, Pribadi Ilahi yang menjadi manusia dengan “menyatukan untuk Diri-Nya sendiri dalam Pribadi-Nya daging yang dijiwai oleh jiwa rasional” (by uniting to himself in his person the flesh animated by a rational soul). Maria diumumkan “Bunda Allah” sebab darinya Sabda menerima Tubuh-Nya, dijiwai oleh jiwa rasional. Oleh karena itu, disebut “Sabda dilahirkan menurut daging.”
Bidaah Monofisitisme mengatakan bahwa kodrat manusiawi Yesus terlebur ketika kodrat itu diterima oleh Pribadi ilahi- Nya. Namun, Gereja mengakui bahwa Yesus telah diperanakkan dari Bapa sebelum segala abad sebagai Putra-Nya dan pada zaman ini Ia dilahirkan oleh Perawan Maria Bunda Allah. Dalam Kristus terdapat dua kodrat, tidak tercampur, tidak berubah, tidak terpisah, tidak dibagi-bagikan. Perbedaan antara kodrat tidak pernah dihilangkan oleh persatuan mereka (Konsili Kalsedon, 451). Melawan bidaah-bidaah ini, Gereja (Konsili Komstantinopel 553) mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada pada kodrat manusiawi Kristus harus dikenakan kepada Pribadi ilahi-Nya sebagai pembawa-Nya yang sebenarnya, bahkan penderitaan dan kematian-Nya. Yesus Kristus adalah Allah benar, Tuhan mulia dan satu Tritunggal.
Yesus adalah sungguh Allah sungguh manusia secara tidak terpisahkan. Ia sesungguhnya Putra Allah, yang menjadi manusia dan tetap Allah: Ia tetap Allah, namun sekaligus juga manusia sejati.
Bersambung ... P. Tinus Sirken, O.S.C..




