Seri 31
PUTRA ALLAH
Dalam Perjanjian Lama gelar “Putra Allah” (menunjukan hubungan intim dengan Allah) diberikan kepada para malaikat, kepada bangsa terpilih, kepada anak-anak Israel dan kepada para raja. Sebab itu, dengan memanggil Yesus “Putra Allah” tidak menyiratkan bahwa Yesus adalah lebih dari manusia.
Petrus berkata, Engkau adalah Kristus Putra Allah yang hidup (Matius 16:16). Yesus menjawab Bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapaku yang ada di surga (Matius 16:16-17). Paulus mengatakan bahwa Allah berkenan menyatakan Putra-Nya kepadaku (Galasia 1: 15-16) dan Paulus memberitakan di rumah ibadat bahwa Yesus adalah Putra Allah. Pengakuan Petrus dan Paulus ini sedang membicarakan Kristus, Putra Allah sebagai dasar dan pusat iman apostolik, iman Gereja.
Yesus ditanyakan oleh Mahkama Agama, apakah Engkau Putra Allah? Yesus menjawab, kamu sendiri mengatakan bahwa Akulah Putra Allah (Lukas 22:70), juga Yesus menyatakan Diri sebagai “Putra” yang mengenal Bapa melalui jalan yang unik (Matius 11:27). Yesus dengan jelas membedakan keputraan-Nya dari murid-murid lain. Yesus selalu mengatakan “Bapa-Ku” dan hanya di dalam doa mengajarkan murid-murid-Nya untuk menyebut “Bapa kita”.
Dalam Perjanjian Lama, kata “Kyrios” (bahasa Yunani) berarti “Tuhan” ditujukan untuk ke-Allah-an Allah Israel. Dan dalam Perjanjian Baru kata “Kyrios” dipakai untuk Bapa dan untuk Yesus yang diakui sebagai Allah.
Dengan memanggil Yesus “Tuhan” umat Perjanjian Baru mengakui bahwa kekuasaan, kehormatan dan kemuliaan, yang pantas diberikan kepada Allah, diberikan juga kepada Yesus, sebab Dia “setara dengan Allah” (Filipus 2:6).
Yesus Tuhan menjadi model kita, Ia mengatakan “belajarlah daripada-Ku” (Matius 11:29). Bapa memerintah kita untuk mendengarkan Dia (Markus 9:7). Yesus mengatakan kepada kita “supaya saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yohanes 15:12).
Dengan menjadi manusia, supaya kita mengambil bagian dalam kodrat ilahi (2 Petrus 1:4). Untuk itulah Sabda Allah menjadi manusia, dan Putra Allah menjadi putra manusia, supaya manusia menerima Sabda dalam dirinya, dan sebagai anak angkat, menjadi anak Allah (Santo Irenius). Putra Allah menjadi manusia, supaya kita diilahikan (Santo Athanasius). Yesus menerima kodrat kita, menjadi manusia, supaya mengilahikan manusia (Santo Thomas Aquinas).
Sabda telah menjadi daging (Yohanes 1:14). Gereja menggunakan istilah inkarnasi (menjadi daging) untuk peristiwa Putra Allah mengambil kodrat manusiawi, supaya dapat melaksanakan keselamatan kita. Yesus menjadi seperti hamba, dilahirkan sama seperti manusia (Philipus 2:7). Dalam keadaan sebagai manusia Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Filipi 2:5-8). Sabda Yesus: “Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-ku” (Ibrani 10:5-7).
Dengan demikian, tanda yang membedakan iman kristiani adalah kepercayaan dalam inkarnasi. Roh Allah menyatakan kepada orang beriman bahwa Yesus Kristus Tuhan telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah (1 Yohanes 4:2). Maka Allah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia (1 Timotius 3:16).
Bersambung ... P. Tinus Sirken, O.S.C..




