Seri 27
MANUSIA JATUH DALAM DOSA ASAL
Santo Agustinus: “Aku bertanya-tanya mengenai awal kejahatan, tetapi tidak menemukan jalan keluar (Confession 7,7,11). Pencarian St. Agustinus ini menyedihkan hati, ia baru akan mendapat jalan keluar dalam pertobatan dirinya kepada Allah yang hidup. Misteri kejahatan ini dapat diklarifikasikan hanya melalui pertobatan (conversion) religius. Kita juga, meneliti pertanyaan “dari mana kejahatan itu” dengan mata kita memandang Kristus, yang manaklukkannya.
Dengan pemahaman mendalam relasi manusia kepada Allah terbukalah kedok kejahatan dosa, yakni penolakan terhadap Allah dan pemberontakan terhadap Allah. Hanya dalam terang wahyu ilahi, kita dapat menjelaskan dosa sebagai suatu gangguan dalam pertumbuhan, suatu kelemahan jiwa, suatu kesalahan atau akibat otomatis dari suatu struktur masyarakat yang salah. Dengan mengetahui rencana Allah, kita dapat melihat bahwa dosa adalah penyalahgunaan kebebasan, yang Allah berikan kepada manusia makhluk yang berakal budi supaya dapat mencintai Allah dan mencintai satu sama lain. Israel tidak dapat mengerti arti terdalam kisah Adam dan Hawa. Arti itu baru nyata dalam cahaya kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Mereka mengenal Adam (sumber dosa), tetapi tidak mengenal Kristus (sumber rahmat). Hanya Roh Kudus akan “menginsafkan dunia akan dosa” (Yohanes 16:8), dengan mewahyukan Dia yang menyelamatkan dari dosa. Doktrin mengenai dosa asal boleh dikatakan “sisi gelap” dari warta gembira bahwa Yesus adalah penyelamat kita, sebab semua manusia butuh untuk diselamatkan. Gereja yang mengetahui pikiran Kristus menyadari dengan jelas bahwa orang tidak dapat mempersoalkan wahyu tentang dosa asal, tanpa membahayakan misteri Kristus. Kisah kejatuhan dalam dosa memakai bahasa gambar, sejarah dosa Adam digambarkan sebagai suatu kejadian yang terjadi pada awal sejarah manusia. Bahwa seluruh sejarah umat manusia telah diwarnai oleh dosa asal, yang telah dilakukan dengan bebas oleh nenek moyang kita. Gereja mengajarkan bahwa setan atau iblis pada mulanya adalah malaikat baik yang diciptakan Allah. Setan dan roh-roh jahat lain menurut kodrat memang diciptakan baik oleh Allah, tetapi menjadi jahat karena kesalahan sendiri (Konsili Lateran IV).
Jatuhnya para malaikat ke dalam dosa merupakan keputusan bebas roh-roh yang tercipta ini, yang menolak Allah dan kerajaan-Nya secara radikal dan tetap. Pemberontakan ini dalam apa yang setan katakan kepada nenek moyang kita: “Kamu akan menjadi seperti Allah” (Kejadian 3:5).
Karena sifat tetap keputusan setan atau iblis yang tidak dapat ditarik kembali dan bukan karena kekurangan belas kasihan ilahi yang tidak terbatas, maka dosa para malaikat itu tidak dapat diampuni. “Bagi mereka tidak ada penyesalan sesudah jatuh, sama seperti bagi manusia sesudah kematian (Yohanes dari Damaskus).
Karena pengaruh iblis yang membahayakan, Yesus datang ke dunia menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan iblis (1 Yohanes 3:8). Godaan yang penuh tipu muslihat, yang telah menyebabkan manusia tidak setia kepada Tuhan.
Kekuasaan setan bukan tanpa batas. Ia tidak dapat menghindarkan pembangunan kerajaan Allah. Meskipun setan membawa kerugian fisik bagi setiap manusia dan masyarakat. Allah masih mendampingi sejarah manusia dan dunia. Usaha setan dibiarkan oleh penyelenggaraan ilahi yang mengatur sejarah manusia dan dengan penuh kekuatan dan sekaligus dengan lemah lembut. Bahwa Allah membiarkan usaha setan merupakan suatu rahasia besar, tetapi kita tahu bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28).
Bersambung ... P. Tinus Sirken, O.S.C..




