Seri 26
ALLAH MENCIPTAKAN MANUSIA
Ketiga, manusia diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan yang setara martabatnya. Allah menghendaki bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kesempurnaan martabat sebagai pribadi manusia. Keberadaan sebagai laki-laki dan perempuan adalah hal yang baik dan dikehendaki Allah, memiliki martabat yang tidak dapat hilang karena diberikan langsung oleh Allah Penciptanya.
Allah sendiri sama sekali tidaklah menurut citra manusia. Sebab Allah bukanlah laki-laki, dan bukan juga perempuan. Allah adalah murni Roh, padanya tidak ada perbedaan jenis kelamin (sebagai ibu, bapa, suami, dan istri). Namun dalam kesempurnaan laki-laki dan perempuan tercermin sesuatu dari kesempurnaan Allah yang tidak terbatas.
Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dan menghendaki yang satu untuk yang lain. Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja, Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia (Kejadian 2:18). Ketika Allah membentuk perempuan, berkatalah manusia yang begitu bahagia karena persekutuan dengannya: Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku (Kejadian 2:23). Allah menciptakan mereka untuk satu persekutuan pribadi, sehingga keduanya taat menjadi penolong satu untuk yang lain. Karena mereka sama sebagai pribadi yang saling melengkapi dalam kepriaan dan kewanitaan. Dalam perkawinan Allah mempersatukan mereka sedemikian erat, sehingga mereka menjadi satu daging (Kejadian 2:24) dan dapat meneruskan kehidupan manusia. Sebab itu, laki-laki dan perempuan dipanggil untuk memenuhi bumi (Kejadian 1:28), tetapi tidaklah membuat rusak bumi dan ciptaan.
Keempat, manusia menjadi sahabat Allah dalam keselarasan otentik. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang baik dalam persahabatan dengan Penciptanya, dalam keselarasan dengan dirinya sendiri, dan dalam keselarasan dengan ciptaan yang berada di sekitarnya. Hanya oleh kemuliaan penciptaan baru dalam Kristus, persahabatan dan keselarasan ini dapat dilampaui.
Nenek moyang kita Adam dan Hawa menikmati kekudusan dan keadilan otentik, yakni saling berbagi dalam kehidupan ilahi (Lumen Gentium 2). Selama mereka tinggal dalam hubungan erat dengan Allah, mereka tidak menderita atau mati. Keselarasan batin manusiawi, keselarasan antara laki-laki dan perempuan, keselarasan antara pasangan suami istri manusia pertama, dan seluruh ciptaan merupakan keadaan yang disebut “keadilan otentik.”
Anugerah ilahi ini disadari dalam diri manusia sendiri. Manusia bebas dari konkupisensi, artinya bebas dari kecenderungan jahat yang membuatnya terikat pada hasrat sensual, seksual, dan hawa nafsu. Ketiga kejahatan ini: keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup bukanlah berasal dari Bapa melainkan dari dunia” (1 Yohanes 2:16). Di taman Eden, kerja bukan merupakan beban melainkan kerjasama dengan Allah. Sayangnya, Adam dan Hawa kehilangan keselarasan ini akibat dosa mereka.
Bersambung ... P. Tinus Sirken, O.S.C..




