Seri 22
MISTERI PENCIPTAAN
Dalam Kitab Wahyu ditulikan bahwa “oleh karena kehendak-Mu semua itu ada dan diciptakan” (Wahyu 4:11). Ini berarti, penciptaan dunia tidak terjadi oleh kebutuhan, juga tidak secara kebetulan. Melainkan Allah dengan kehendak bebas menciptakan setiap makhluk untuk berbagi kehidupan dan kebaikan Allah.
Allah dalam menciptakan segala sesuatu tidak membutuhkan sesuatu yang sudah ada lebih dahulu dan tidak membutuhkan bantuan apa pun. Santo Theofilus dari Antiokhia memberi kesaksian bahwa Allah memperlihatkan kuasa-Nya dengan memulai dari ketidakadaan untuk membuat semua yang Ia kehendaki.
Dengan menciptakan dari ketidakadaan, Allah memberikan kita harapan bahwa penciptaan dunia ini lebih dari dunia materi. Allah tidak menjadikan kesemuaannya itu dari barang yang sudah ada. Demikian pun bangsa manusia dijadikan juga dari ketidakadaan (2 Makabe 7:28).
Karena Allah menciptakan di luar ketidakadaan, maka Ia dapat memberi hidup rohani kepada orang berdosa dan tubuh hidup kepada orang mati melalui kebangkitan. Allah menghidupkan orang mati dan dengan Sabda-Nya menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada (Roma 4:17).
Allah menciptakan, secara khusus pribadi-pribadi manusia yang dipanggil ke dalam relasi personal dengan-Nya (Kolose 1:15). Penciptaan adalah anugerah Allah kepada manusia, dengan maksud manusia berbagi dalam kebaikan Allah.
Allah selalu hadir di dalam ciptaan-Nya. Di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, dan kita ada (Kisah Rasul 17:28). Sebab itu, Santo Agustinus mengakui bahwa, Allah lebih dalam daripada diri saya yang paling dalam.
Allah selalu menopang seluruh dunia dan akan membawa sejarah manusia kepada tujuan akhir atau penyelesaian. Menyadari ini secara total manusia sangat bergantung kepada kebijaksanaan Allah.
Bersambung ... P. Tinus Sirken, O.S.C..




