Seri 18
ALLAH YANG HIDUP
Allah yang hidup artinya, Allah memasuki sejarah hidup manusia, memperkenalkan diri-Nya kepada Musa sebagai Allah yang menuntun Abraham, Isak,Yakub, dan setia kepada janji-Nya yaitu bertindak dalam sejarah hidup manusia.
Sebagai rasa hormat (respect) terhadap misteri kehadiran-Nya yang mengagumkan itu membuat umat Israel tidak menyebut Allah dengan kata Yahwe, tetapi menyapa Allah dengan sebutan Adonai, artinya Tuhan. Sekarang kita umat Kristiani menggunakan kata Tuhan itu untuk mengakui dan menegaskan keilahian Yesus, maka Yesus Kristus adalah Tuhan (Filipi 2:11).
Kehadiran Tuhan yang mengagumkan disadari melalui pengampunan dan belas kasihan. Umat Israel berdosa, tetapi Tuhan berjanji tetap bersama mereka (Keluaran 32:33), mengampuni, menyayangi, dan berbelas kasih kepada mereka (Keluaran 34:36).
Allah memperlihatkan kesetiaan-Nya dengan mengutus Putra-Nya, yang memiliki nama ilahi yang sama, “Akulah Dia” (Yohanes 8:28). Akulah berarti Allah sendiri, Dialah yang tidak memiliki awal dan akhir dan dari-Nya semua ciptaan menerima eksistensi.
Allah adalalah kasih (1 Yohanes1:5, 4:8). Ia menyatakan diri- Nya sebagai Allah yang “berlimpah Kasih dan Setia-Nya” (Keluaran 34:6). Umat Israel mengucapkan terima kasih untuk kasih dan kesetiaan Allah (Mazmur 138:2).
Allah adalah kebenaran. Sabda-Nya adalah kebenaran (2 Samuel 7:28). Dialah kebenaran, maka kita harus membaharui atau menguduskan diri terhadap Sabda Allah. Allah sendiri akan memberi kepada kita pengetahuan yang benar tentang seluruh ciptaan. Ia mengutus Yesus untuk memberi kesaksian tentang kebenaran (Yohanes 18:37).
Para nabi menemukan bahwa KASIH adalah bentuk/motif Allah menyatakan diri-Nya (Yesaya 43:1-7; Hosea 2). Kasih Allah seperti kasih bapa. Kasih-Nya lebih kuat daripada kasih ibu kepada anaknya atau kasih seorang suami kepada istrinya.
Kasih Allah “kekal” dan tak pernah berubah (Yeremia 31:3).
Keberadaan batin-Nya adalah pertukaran kasih yang kekal antara Bapa, Putra dan Roh Kudus.
Percaya akan satu Allah memiliki konskuensi besar. Kita harus melayani Allah. Kita harus tinggal dalam kasih Allah. Kita harus menyadari martabat setiap pribadi manusia. Kita harus memakai karya ciptaan seturut rencana Allah dan kita harus percaya kepada Allah dalam setiap kehidupan.
Bersambung ... P. Tinus Sirken, O.S.C..




