Seri 16
ARTI TRITUNGGAL MAHAKUDUS
Rumusan dogma Tritunggal Mahakudus menyangkut arti dari istilah “pribadi.” Mari kita pahami bersama arti dari kata “pribadi” di Gereja Barat (Latin) dan di Gereja Timur (Yunani) berbeda maknanya.
Di Gereja Barat, kata Latin persona, semula berarti “topeng” yang dipakai dalam sandiwara dan tarian untuk mengungkapkan sesuatu yang “khusus” atau “unik” mengenai keistimewaan dari peran yang mau dimainkan. Kata persona lebih mendapat arti subjek yang mempunyai hak dan kewajiban.
Sementara, di Gereja Timur, kata Yunani prosopon mempunyai arti “wajah” atau “yang tampak” dari subjek atau individu. Penekanan pada arti penampilan yang unik atau khusus, antara Bapa, Putra dan Roh Kudus.
Disadari kemudian, bahwa kata yang lebih bisa menggambarkan arti Allah Tritunggal adalah hypostasis, yang mengungkapkan keunikan masing-masing. Dengan demikian, bukan hanya sebagai penampilan melainkan sebagai kenyataan objektif yang khusus dalam menghayati keallahan bersama, hakikat ilahi ousia (Yun.) dan substantia, essential (Lat.). Jadi, penekanan pada keunikan atau keistimewaan antara Bapa, Putra dan Roh Kudus dalam hubungan antara ketiganya.
St. Agustinus, amat menyadari bahwa kata Latin persona sebetulnya kurang memadai, maka ia menekankan perbedaan dalam hubungan. Kata hypostasis dan persona kemudian dipakai juga untuk menyatakan bahwa dalam Kristus kemanusiaan dan keallahan bertemu dalam satu subjek.
Kalau kata “pribadi” dipahami untuk tiga pribadi ilahi, tekanan memang ada pada keunikan masing-masing dalam hubungan dengan yang lain, maka subjek kegiatan adalah keallahan. Kalau begitu, arti kata persona dan prosopon sebenarnya menunjuk pada gambaran wajah yang dikenakan pelaku sebuah lakon yang membuat para hadirin langsung menangkap peran mana sedang dijalankan. Cara berungkap dengan bahasa lakon seperti ini dulu mudah menghimbau perhatian orang banyak dan oleh karenanya dirasa cocok untuk menjelaskan karya penyelamatan.
Logika kristiani, bahwa karya penyelamatan itu berasal dari Bapa dan dilaksanakan oleh Putra yang diutus ke dunia, dijaga keberlangsungnnya oleh Roh Kudus. Disadari iman akan Allah Tritunggal dalam hubungan dengan karya penyelamatan. Di sini kita pahami inti keilahian Tritunggal, yaitu kesatuan antara ketiga pribadi (Bapa, Putra, Roh Kudus) sedemikian mendalam sehingga keesaan Allah tidaklah berubah.
Dalam Allah tidak ada pertentangan antara kemandirian dan hubungan, karena Bapa, Putra dan Roh Kudus saling menerima dengan sempurna. Ketiga pribadi justru mempunyai keunikan masing-masing dalam hubungan dengan yang lain. Allah mengkomunikasikan diri kepada manusia. Dasar pemberian diri itulah “komunikasi” dalam diri Allah sendiri. Dalam mengkomunikasikan diri kepada manusia, Allah juga memperlihatkan sesuatu dari diri-Nya sendiri.
Di Gereja Barat, kata Latin persona, semula berarti “topeng” yang dipakai dalam sandiwara dan tarian untuk mengungkapkan sesuatu yang “khusus” atau “unik” mengenai keistimewaan dari peran yang mau dimainkan. Kata persona lebih mendapat arti subjek yang mempunyai hak dan kewajiban.
Sementara, di Gereja Timur, kata Yunani prosopon mempunyai arti “wajah” atau “yang tampak” dari subjek atau individu. Penekanan pada arti penampilan yang unik atau khusus, antara Bapa, Putra dan Roh Kudus.
Disadari kemudian, bahwa kata yang lebih bisa menggambarkan arti Allah Tritunggal adalah hypostasis, yang mengungkapkan keunikan masing-masing. Dengan demikian, bukan hanya sebagai penampilan melainkan sebagai kenyataan objektif yang khusus dalam menghayati keallahan bersama, hakikat ilahi ousia (Yun.) dan substantia, essential (Lat.). Jadi, penekanan pada keunikan atau keistimewaan antara Bapa, Putra dan Roh Kudus dalam hubungan antara ketiganya.
St. Agustinus, amat menyadari bahwa kata Latin persona sebetulnya kurang memadai, maka ia menekankan perbedaan dalam hubungan. Kata hypostasis dan persona kemudian dipakai juga untuk menyatakan bahwa dalam Kristus kemanusiaan dan keallahan bertemu dalam satu subjek.
Kalau kata “pribadi” dipahami untuk tiga pribadi ilahi, tekanan memang ada pada keunikan masing-masing dalam hubungan dengan yang lain, maka subjek kegiatan adalah keallahan. Kalau begitu, arti kata persona dan prosopon sebenarnya menunjuk pada gambaran wajah yang dikenakan pelaku sebuah lakon yang membuat para hadirin langsung menangkap peran mana sedang dijalankan. Cara berungkap dengan bahasa lakon seperti ini dulu mudah menghimbau perhatian orang banyak dan oleh karenanya dirasa cocok untuk menjelaskan karya penyelamatan.
Logika kristiani, bahwa karya penyelamatan itu berasal dari Bapa dan dilaksanakan oleh Putra yang diutus ke dunia, dijaga keberlangsungnnya oleh Roh Kudus. Disadari iman akan Allah Tritunggal dalam hubungan dengan karya penyelamatan. Di sini kita pahami inti keilahian Tritunggal, yaitu kesatuan antara ketiga pribadi (Bapa, Putra, Roh Kudus) sedemikian mendalam sehingga keesaan Allah tidaklah berubah.
Dalam Allah tidak ada pertentangan antara kemandirian dan hubungan, karena Bapa, Putra dan Roh Kudus saling menerima dengan sempurna. Ketiga pribadi justru mempunyai keunikan masing-masing dalam hubungan dengan yang lain. Allah mengkomunikasikan diri kepada manusia. Dasar pemberian diri itulah “komunikasi” dalam diri Allah sendiri. Dalam mengkomunikasikan diri kepada manusia, Allah juga memperlihatkan sesuatu dari diri-Nya sendiri.
Bersambung ... P. Tinus Sirken, O.S.C..




