Seri 6
MANUSIA MENCARI ALLAH
Percaya adalah jawaban manusia kepada Allah yang memberikan Diri-Nya kepada manusia. Rasa percaya ini terwujud dalam tindakan manusia mencari Allah. Kerinduan akan Allah sudah terukir dalam hati manusia karena manusia diciptakan oleh Allah dan bagi Allah.
Allah tidak henti-hentinya menarik manusia bagi Diri-Nya, berbicara dengan-Nya dan dalam persekutuan dengan-Nya (Gaudium et Spes 19,1). Sebab di dalam Allah manusia hidup, bergerak, dan ada (bdk. Kisah Rasul 17:26-28).
Hubungan mesra antara manusia dengan Allah dihambat oleh faktorfaktor (sikap tidak peduli, kesusahan duniawi, nafsu kekayaan, contoh hidup yang buruk, aliran berpikir yang bermusuhan dengan agama) memimpin manusia untuk menolak “kewajiban utamanya kepada Allah.” Karena takut, manusia menyembunyikan dirinya dan melarikan diri dari Allah yang memanggilnya (Kejadian 3:8-10). Namun, Allah tidak berhenti memanggil kembali setiap manusia mencari-Nya dan menemukan kebahagiaan Allah. Pencarian itu menuntut dari manusia seluruh usaha berpikir dan penyesuaian kehendak yang tepat, hati yang tulus dan juga kesaksian orang lain yang mengajar kepadanya untuk mencari Allah.
St. Agustinus bersaksi mengenai eksistensi Allah: tanyakanlah keindahan bumi, tanyakanlah keindahan samudera, tanyakanlah keindahan udara yang menyebarluas, tanyakanlah keindahan langit, tanyakanlah semua benda. Semua akan menjawab kepadamu, lihatlah, betapa indahnya kami. Keindahan kami adalah suatu pengakuan (confession). Siapakah yang menciptakan benda-benda yang berubah, bila bukan Yang Indah, yang tidak dapat berubah. Semua keindahan itu memberi kesaksian mengenai Allah.
St. Thomas Aquinas menggambarkan dunia dan manusia bersaksi bahwa baik manusia dan dunia tidak memiliki sebab yang pertama serta tujuan yang terakhir dalam dirinya, tetapi manusia dan dunia hanya mengambil bagian dalam ADA yang tanpa titik awal dan titik akhir. Melalui bukti-bukti yang berbeda itu manusia dapat sampai kepada pengertian ada satu realitas, yang adalah sebab pertama dan tujuan akhir dari segala-galanya, dan realitas ini disebut Allah.
Bersambung ... P. Tinus Sirken, O.S.C..




