Seri 20
KAMIS & JUMAT SUCI
Kamis Suci, disebut juga Kamis Putih di mana dirayakan Ekaristi Perjamuan Terakhir. Hari Kamis Suci ini merupakan hari di mana kita mengenang Perjamuan Terakhir Yesus dengan murid-murid-Nya. Kita mengerti bahwa dalam Perjamuan Terakhir ini Yesus mengajarkan kepada kita dua hal pokok. Pertama, Yesus mengadakan Ekaristi sepanjang perjamuan. Melalui Ekaristi Yesus menghendaki murid-murid-Nya untuk selalu mengenangkan Dia, dan Ia akan memberi Diri-Nya kepada Gereja dalam Komuni Kudus. Kedua, Yesus melakukan tindakan membasuh kaki murid-murid-Nya. Melalui pembasuhan kaki, Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya bagaimana mereka akan saling mengasihi dan melayani satu sama lain. Kamis malam adalah malam di mana Yudas mengkhianati Yesus di Taman Getsemani. Maka dalam perayaan Kamis Suci peristiwa-peristiwa itulah yang dikenangkan. Selain itu, menyiapkan Hari Jumat Suci, dengan cara altar dikosongkan dari kain-kain pada akhir perayaan. Umat diundang untuk tinggal dan berjaga-jaga dengan Yesus dalam Sakramen Maha Kudus.
Jumat Suci, disebut juga Jumat Agung di mana Gereja merayakan (mengenangkan dan menghadirkan) sengsara dan wafat Yesus di Salib, dimulai pada jam 3 sore. Dalam Injil, Yesus wafat pada jam kesembilan hari itu, yang mana dihitung dari jam 6 pada pagi hari. Jumat Suci merupakan hari di mana kita mengenangkan Yesus wafat di salib. Yesus wafat untuk kita supaya kita dapat mempunyai kepenuhan hidup dan memperoleh hidup kekal dengan-Nya di surga. Maka, dalam liturgi Jumat Suci kita mendengarkan kisah sengsara dan wafat Yesus sebagaimana diceritakan oleh penginjil Yohanes. Dalam Injilnya, Yohanes menyadari bahwa dengan wafat di salib Yesus menang atas kematian. Sebagai tanggapan iman akan sengsara dan wafat Yesus, maka Gereja mengungkapkan cintanya kepada Yesus melalui tindakan penghormatan Salib, yakni penciuman Salib. Adapun doa-doa khusus didoakan untuk Gereja dan dunia di zaman ini.
Bersambung ... P. Tinus Sirken, O.S.C..




