Seri: 14
Proklamasi Injil Tuhan
Kristus berbicara melalui homili
Dalam perayaan Ekaristi homili dimaksudkan untuk imam menjelaskan bacaan-bacaan Kitab Suci dan membantu umat untuk mengertinya lebih baik. Supaya dapat menumbuhkan iman umat dan memampuhkan mereka untuk hidup dalam terang Sabda Allah. Sebab itu, homili sangat dianjurkan dalam liturgi sebab penting untuk memupuk semangat hidup kristiani. Homili itu haruslah merupakan penjelasan tentang beberapa aspek dari bacaan-bacaan Kitab Suci, ataupun penjelasan tentang teks lain yang diambil dari ordinarium atau proprium perayaan Ekaristi hari itu, yang bertalian dengan Misteri Kristus yang dirayakan, atau yang bersangkutan dengan keperluan khusus umat yang hadir [PUMR 65].
Pemberi homili
Homili biasanya diberikan oleh imam selebran. Ia dapat mempercayakan homili kepada seorang imam konselebran, atau kadang-kadang, seturut keadaan setempat kepada diakon, tetapi tidak pernah kepada seorang umat (awam). Dalam kesempatan-kesempatan tertentu atau karena alasan khusus, homil bahkan dapat diberikan kepada seorang uskup atau imam yang hadir dalam perayaan Ekaristi tetapi tidak ikut berkonselebrasi. Pada hari-hari Minggu dan pesta-pesta wajib homili harus diadakan dalam semua perayaan Ekaristi yang dihadiri oleh umat, dan hanya boleh ditiadakan jika ada alasan serius. Dianjurkan pada hari-hari lain, khususnya pada hari-hari kerja dalam Masa Adven, Masa Prapaskah, dan Masa Paskah. Begitu pula pada hari-hari pesta dan kesempatan-kesempatan lainnya pada saat umat datang ke gereja dalam jumlah yang banyak. Sesudah homili diberikan, diakhiri dengan hening sejenak [PUMR 66].
Tempat memberi homili
Tempat memberi homili yang wajar dan simbolis adalah dari kursi imam atau dari mimbar. Imam yang memberikan homili mengambil tempat pada kursi imam, karena kursi imam adalah lambang tugas pengajaran juga. Ia boleh duduk atau berdiri di depan kursi imam itu. Atau, imam memberi homili dari mimbar supaya terjadi komunikasi antara imam dengan umat. Metode alternatif lain adalah memberikan homili sambil “jalan-jalan”. Metode ini mungkin merupakan bagian dari metode retorika atau gaya berbicara di depan umum yang diyakini oleh homilis tertentu untuk membantu efektivitas homili yang dibawakan. Namun cara ini kiranya lebih cocok dipraktekkan dalam liturgi bersama anak-anak. Bersambung...
Dalam perayaan Ekaristi homili dimaksudkan untuk imam menjelaskan bacaan-bacaan Kitab Suci dan membantu umat untuk mengertinya lebih baik. Supaya dapat menumbuhkan iman umat dan memampuhkan mereka untuk hidup dalam terang Sabda Allah. Sebab itu, homili sangat dianjurkan dalam liturgi sebab penting untuk memupuk semangat hidup kristiani. Homili itu haruslah merupakan penjelasan tentang beberapa aspek dari bacaan-bacaan Kitab Suci, ataupun penjelasan tentang teks lain yang diambil dari ordinarium atau proprium perayaan Ekaristi hari itu, yang bertalian dengan Misteri Kristus yang dirayakan, atau yang bersangkutan dengan keperluan khusus umat yang hadir [PUMR 65].
Pemberi homili
Homili biasanya diberikan oleh imam selebran. Ia dapat mempercayakan homili kepada seorang imam konselebran, atau kadang-kadang, seturut keadaan setempat kepada diakon, tetapi tidak pernah kepada seorang umat (awam). Dalam kesempatan-kesempatan tertentu atau karena alasan khusus, homil bahkan dapat diberikan kepada seorang uskup atau imam yang hadir dalam perayaan Ekaristi tetapi tidak ikut berkonselebrasi. Pada hari-hari Minggu dan pesta-pesta wajib homili harus diadakan dalam semua perayaan Ekaristi yang dihadiri oleh umat, dan hanya boleh ditiadakan jika ada alasan serius. Dianjurkan pada hari-hari lain, khususnya pada hari-hari kerja dalam Masa Adven, Masa Prapaskah, dan Masa Paskah. Begitu pula pada hari-hari pesta dan kesempatan-kesempatan lainnya pada saat umat datang ke gereja dalam jumlah yang banyak. Sesudah homili diberikan, diakhiri dengan hening sejenak [PUMR 66].
Tempat memberi homili
Tempat memberi homili yang wajar dan simbolis adalah dari kursi imam atau dari mimbar. Imam yang memberikan homili mengambil tempat pada kursi imam, karena kursi imam adalah lambang tugas pengajaran juga. Ia boleh duduk atau berdiri di depan kursi imam itu. Atau, imam memberi homili dari mimbar supaya terjadi komunikasi antara imam dengan umat. Metode alternatif lain adalah memberikan homili sambil “jalan-jalan”. Metode ini mungkin merupakan bagian dari metode retorika atau gaya berbicara di depan umum yang diyakini oleh homilis tertentu untuk membantu efektivitas homili yang dibawakan. Namun cara ini kiranya lebih cocok dipraktekkan dalam liturgi bersama anak-anak. Bersambung...
Faustinus Sirken, OSC




