Seri: 13
Proklamasi Injil Tuhan
Kristus bersabda melalui proklamasi Injil
Kita diingatkan oleh PUMR 29 bahwa: pada saat Injil dibacakan di hadapan Gereja, saat itulah Allah sendiri bersabda kepada umat-Nya. Sabda Allah itu ialah Kristus Putra-Nya yang mewartakan kabar gembira sebab Allah hadir dalam Sabda-Nya itu. Melalui proklamasi Injil, semua orang kristiani dibantu untuk mendengarkan Sabda Allah dan mengerti pesan Allah itu sebagai makanan rohani bagi hidupnya. Artinya, pada saat kita mendengarkan kisah Injil yang dibacakan kita tidak saja mendengarkan kisah lama tentang Yesus. Tetapi mencontohi Yesus yang pada saat Ia pulang ke tempat asal-Nya Nazaret membacakan kitab nabi Yesaya yang memberitakan warta gembira kepada orang miskin dan memberitakan pembebasan bagi yang tertawan. Yesaya menyerukan: lengkaplah naskah ini pada saat kamu mendengarkan. Dengan dasar itu, kita percaya bahwa apa yang pernah Yesus lakukan di Nazaret itu sungguh-sungguh terjadi bagi kita saat ini. Maka, pada saat Injil diproklamasikan kita percaya bahwa Yesus sendiri yang memproklamasikannya dan yang berpesan bagi semua orang beriman yang berkumpul, seperti pesan bagi mereka yang pertama kali mendengarkan perkataan Yesus.
Aklamasi penutup
Di TPE 2005 terdapat dua model aklamasi penutup: [1] Terpujilah Kristus untuk menanggapi Demikianlah Injil Tuhan dan [2] Sabda-Mu adalah adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami untuk menanggapi Berbahagialah orang yang mendengarkan Sabda Tuhan, dan tekun melaksanakannya. Aklamasi penutup ini melengkapi makna bahwa kita percaya akan kehadiran Kristus yang bersabda kepada kita.
Kita diingatkan oleh PUMR 29 bahwa: pada saat Injil dibacakan di hadapan Gereja, saat itulah Allah sendiri bersabda kepada umat-Nya. Sabda Allah itu ialah Kristus Putra-Nya yang mewartakan kabar gembira sebab Allah hadir dalam Sabda-Nya itu. Melalui proklamasi Injil, semua orang kristiani dibantu untuk mendengarkan Sabda Allah dan mengerti pesan Allah itu sebagai makanan rohani bagi hidupnya. Artinya, pada saat kita mendengarkan kisah Injil yang dibacakan kita tidak saja mendengarkan kisah lama tentang Yesus. Tetapi mencontohi Yesus yang pada saat Ia pulang ke tempat asal-Nya Nazaret membacakan kitab nabi Yesaya yang memberitakan warta gembira kepada orang miskin dan memberitakan pembebasan bagi yang tertawan. Yesaya menyerukan: lengkaplah naskah ini pada saat kamu mendengarkan. Dengan dasar itu, kita percaya bahwa apa yang pernah Yesus lakukan di Nazaret itu sungguh-sungguh terjadi bagi kita saat ini. Maka, pada saat Injil diproklamasikan kita percaya bahwa Yesus sendiri yang memproklamasikannya dan yang berpesan bagi semua orang beriman yang berkumpul, seperti pesan bagi mereka yang pertama kali mendengarkan perkataan Yesus.
Aklamasi penutup
Di TPE 2005 terdapat dua model aklamasi penutup: [1] Terpujilah Kristus untuk menanggapi Demikianlah Injil Tuhan dan [2] Sabda-Mu adalah adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami untuk menanggapi Berbahagialah orang yang mendengarkan Sabda Tuhan, dan tekun melaksanakannya. Aklamasi penutup ini melengkapi makna bahwa kita percaya akan kehadiran Kristus yang bersabda kepada kita.
Evangeliarium diangkat dan dikecup
Sesudah membacakan Injil, tata gerak-gerik diakon atau imam adalah mengangkat dan mengecup Evangeliarium. Tata gerak ini mengandung makna rohani penghormatan kepada Kristus yang hadir dan bersabda. Ritusnya adalah setelah diakon atau imam membaca, Evangeliarium diangkat, diperlihatkan kepada umat, menyanyikan aklamasi penutup dan mengecupkan Evangeliarum sambil mengucapkan dalam hati: semoga karena pewartaan Injil ini dileburlah dosa-dosa kami. Bersambung...P. Faustinus Sirken, OSC




