Seri: 08
LITURGI SABDA
Unsur-unsur Dasar Pembentuk Liturgi Sabda: Bacaan Pertama, Mazmur Tanggapan, Bacaan Kedua, Bait Pengantar Injil, Bacaan Injil, Homili, Syahadat, dan Permohonan Umat.
Kita Menanggapi Allah Dengan Menyanyikan Mazmur Tanggapan
Makna Mazmur Tanggapan
Umat semestinya hening setelah Pembacaan Pertama, kemudian Mazmur Tanggapan dibacakan oleh seorang umat atau dinyanyikan oleh seorang Kantor/Pemazmur. Mazmur Tanggapan adalah jawaban kita bersama kepada Sabda Allah yang telah kita dengarkan bersama pula. Maka proses internalisasi Sabda Allah itu: setelah kita mendengarkan Sabda Allah, kita merenungkan, kita meresapkannya, dan memberikan jawaban yang indah secara bersama-sama. Umat menjawab karya-karya Allah yang masih berlangsung hingga kini dengan pujian melalui Mazmur Tanggapan ini. Mazmur-mazmur adalah nyanyian kepada Allah. Melalui bagian Antifon Mazmur kita menanggapi dan mengulangi pesanan dari pembacaan pertama, serta siap untuk mendengarkan Injil. Seperti bacaan pertama dihubungkan dengan Injil pada hari-hari Minggu, maka Mazmur dan tanggapannya juga dihubungkan dan dapat berlaku sebagai jembatan antara dua bacaan. Mazmur Tanggapan memiliki makna liturgis serta pastoral yang penting karena menopang permenungan atas Sabda Allah. Mazmur Tanggapan hendaknya sesuai dengan bacaan yang bersangkutan, dan biasanya diambil dari Buku Bacaan Misa (Lectionarium).
Cara Membawakan Mazmur Tanggapan
PUMR 61 menganjurkan, sekurang-kurangnya pada bagian antifon yang dibawakan oleh umat sesuai dengan hakikat Mazmur yang adalah suatu nyanyian. Pemazmur dapat bernyanyi dari meja sabda (mimbar) atau tempat lain yang cocok. Sebaiknya pemazmur dibedakan dari solis, yang lebih berfungsi sebagai petugas dalam kelompok paduan suara. Namun jika tidak ada pemazmur, tugas ini dapat dirangkap oleh solis. Kalaupun solis tidak ada, lektor dapat mengambil alih tugas ini. Bahkan, kalau semua petugas yang diharapkan itu tidak ada, imam selebran pun dapat melakukannya. Cara membawakan Mazmur; misalnya, pemazmur memulai sendirian membawakan antifon, kemudian diulangi oleh umat. Lalu pemazmur membawakan ayat per ayat, setelah setiap ayat ditanggapi umat
dengan menyanyikan antifon. Dengan kata lain, gaya antara pemazmur dan umat menyanyikan Mazmur Tanggpan ini adalah bergaya “responsorial”, artinya saling balas-balasan atau tanggaptanggapan. Sebagai catatan penting bahwa, istilah “Lagu Antar Bacaan” dalam Misa sebenarnya sangat tidak tepat, karena istilah 'lagu antar bacaan' itu dapat dengan mudah membelokkan makna terdalam dan fungsi liturgis yang sebenarnya. Jadi, secara liturgis yang tepat dan benar adalah Mazmur Tanggapan.
P. Faustinus Sirken,OSC




