Seri 7
ALLAH MENDATANGI MANUSIA
Melampaui pengetahuan manusia, Allah telah menyatakan rencana keabadian-Nya dengan mengutus Putera-Nya Yesus Kristus dan Roh Kudus. Allah menghendaki manusia mendekati Yesus. Allah menghendaki semua orang untuk memiliki jalan masuk kepada-Nya melalui Kristus dan dalam Roh Kudus (Ef. 1:9, 2:18). Meskipun tinggal dalam terang yang tak dapat didekati (1 Timotius 6:16), Allah ingin mengkomunikasikan hidup-Nya kepada manusia. Manusia dapat berbagi dalam sifat Allah dan hidup melampaui kemampuan dasarnya.
St. Irenius mengatakan bahwa, puncak penyataan Allah dalam diri dan misi Yesus Kristus. Sabda Ilahi menjadi Putra Manusia supaya membiasakan manusia memahami Allah dan membiasakan Allah tinggal di antara manusia.
Dalam Doa Syukur Agung IV kita menyerukan iman Gereja, bahwa berulang kali Allah berjanji kepada manusia menyatakan diri-Nya kepada leluhur kita dan mengenakan mereka anugerah. Bahkan dosa tidak menghancurkan rencana Allah karena Allah secara langsung menjanjikan penebusan (Kejadian 3:15).
Dengan Nuh, Allah bersabda: Saya membangun perjanjian-Ku dengan engkau dan dengan keturunan setelah engkau (Kejadian 9:9). Begitu juga Allah merencanakan keselamatan kepada segala suku bangsa, masing-masing menurut bahasa mereka, keluarga-keluarga mereka, bangsa-bangsa mereka (Kejadian 10:15). Perjanjian Allah dengan Nuh ini terus berlangsung hingga pewartaan injil dan melahirkan kekudusan bagi banyak orang (Abel, imam agung Melkisadek, Nuh, daniel dan Yakub).
Dengan Abraham, Allah mengumpulkan kemanusiaan yang tersebar. Allah memilih Abram dan menamainya Abraham bapa banyak bangsa (Kejadian 17:5). Keturunan Abraham menyiapkan Gereja dan menjadi akar bagi bangsa-bangsa lain yang dicangkokkan (Roma 11: 17-24).
Dengan Musa dan para nabi, Allah membebaskan umat-Nya dari Mesir, membuat perjanjian dengan mereka dan memberikan mereka hukum-Nya. Israel adalah umat yang memiliki martabat imamat Allah, yang pertama mendengarkan Sabda Allah. Dengan perantaraan nabinabi, Allah memaklumkan penebusan radikal dan bersabda kepada umat-Nya untuk menantikan Perjanjian Baru (Yeremia 31:31-34). Dalam Perjanjian Lama Allah memakai banyak wanita (Sarah, Ribka, Yudit, Ester, dst..) untuk memelihara pengharapan Israel agar terus hidup. Di antara wanita-wanita itu, Maria menjadi figur yang paling murni.
Bersambung ... P. Tinus Sirken, O.S.C..




