Seri 25
NOVENA PENTAKOSTA
Kata novena artinya sembilan. Dalam tradisi Gereja, umat beriman kristiani mempunyai kebiasaan mengadakan doa Roh Kudus selama sembilan hari. Mulai pada hari sesudah kenaikan Tuhan Yesus ke surga dan berakhir pada hari Sabtu menjelang Pentakosta. Tradisi Gereja ini mengikuti pengalaman para murid yang bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama. Hakikat dari doa Novena Pentakosta ialah umat beriman kristiani memuji Tuhan yang menjanjikan kedatangan Roh Kudus dan memohon rahmat Allah agar siap menyambut kedatangan Roh Kudus.
Kitab Suci Perjanjian Baru menuturkan kepada kita bahwa selama waktu antara Kenaikan dan Pentakosta, para murid bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus (Kisah Rasul 1 :14). Berdoa sambil menantikan diri mereka diperlengkapi dengan kuasa dari tempat tinggi (Lukas 24 :49). Ulah kesalehan Novena Pentakosta ini, yang dipraktekkan secara meluas oleh umat beriman setiap zaman, sungguh muncul dari permenungan atas pengalaman para murid yang menyelamatkan itu.
Secara liturgis, ritus Novena Pentakosta ini terdapat dalam Misale dan dalam Ibadat Harian (Liturgia Horarum atau Officium Divinum), terutama pada Ibadat Sore II Pentakosta: teks-teks Kitab Suci dan doa-doa presidensial, dengan pelbagai cara mengisahkan penantian para murid atas Sang Penghibur.
Novena Pentakosta hendaknya mencakup perayaan Ibadat Sore meriah. Bila perayaan Ibadat Sore meriah ini tidak mungkin dilakukan, maka hendaklah diupayakan agar dalam Novena Pentakosta tercermin tema-tema liturgi pada hari-hari antara Kenaikan dan vigilia Pentakosta. Di sejumlah tempat, maksud saya Gereja lokal (keuskupan tertentu) Novena Pentakosta dirayakan oleh umat beriman sebagai pekan doa untuk kesatuan umat kristiani sedunia.
Seturut prinsip liturgi, bila Novena Pentakosta ini dipadukan dengan Perayaan Ekaristi, maka susunan perayaan sebagai berikut: Ritus Pembuka, Liturgi Sabda (yang diakhiri dengan doa Mohon Tujuh Karunia Roh Kudus), Liturgi Ekaristi, dan Ritus Penutup.
Bersambung ... P. Tinus Sirken, O.S.C..




