Seri 19
TRIDUUM PASKAH
Kata bahasa Latin “Tridum” artinya “tiga hari”. Hubungannya dengan hari-hari yang sangat penting dalam tahun liturgi. Tridum Paskah mulai dengan Perjamuan Terakhir Tuhan (Kamis Suci), Kematian Tuhan (Jumat Suci) dan Kebangkitan Tuhan (Sabtu Suci), dan berakhir dengan Ibadat Sore pada hari Minggu Paskah. Empat hari yang disebutkan di sini, diperhitungkan sebagai tiga hari menurut konsep Gereja purba yang masih diikuti oleh kalendar liturgi. Hari mulai pada matahari terbenam hari sebelumnya dan berakhir pada matahari terbenan hari berikutnya.
Jadi, Tridum terhitung sejak matahari terbenam pada Kamis Suci sampai matahari terbenam pada Minggu Paskah: tiga hari lamanya kita merayakan penderitaan, kematian dan Kebangkitan Yesus. Hari-hari ini merupakan elemen tertinggi dari keseluruhan tahun liturgi. Juga merupakan hari-hari yang sangat dramatis dan sangat penting. Sepanjang tiga hari kita merayakan Penderitaan, Kematian dan Kebangkitan Yesus. Liturgi-liturgi utama dari Tridum memiliki suatu kesatuan – mereka mengalir ke dalam satu sama lain.
Pada akhir dari Kamis Suci tidak ada pembubaran umat (dismissal); pada permulaan Jumat Suci tidak ada salam. Meskipun liturgi-liturgi Tridum mengikuti kisah dari Penderitaan, Kematian dan Kebangkitan Yesus, namun liturgi-liturgi tersebut bukanlah sesuatu yang sederhana memerankan kembali peristiwa-peristiwa itu – suatu ‘Drama Penderitaan’, di mana kita pura-pura tidak tahu akhir. Kristus yang hadir pada Jumat Suci adalah Kristus yang dibangkitkan – melalui Kebangkitan-Nya kita fokus pada kematian-Nya di salib. Kesatuan ini dapat dilihat dalam ‘Antifon Pembuka’ dari Kamis Suci, ‘Kita pasti menang dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus.’ Dalam mengenangkan peristiwa-peristiwa Paskah pertama kita merayakannya sekarang ini. Pada saat kaki-kaki dicucikan pada Kamis Suci ini karena perintah Yesus untuk mengasihi dan melayani satu sama lain yang merupakan hal yang harus kita hidupkan zaman ini.
Bersambung ... P. Tinus Sirken, O.S.C..




