Seri: 36
PEMECAHAN ROTI
Tindakan-tindakan dalam Ritus Pemecahan Roti: [1] imam selebran memecahkan hosti besar atau membaginya menjadi dua bagian yang besar dan mencuil satu bagian; [2] kemudian imam selebran memasukan cuilan (fermentum, particular, atau juga Sancta) itu ke dalam piala, mencampurkannya (commixtio) dengan Darah Kristus, lambang persatuan Tubuh dan Darah Kristus dengan berdoa dalam hati: Semoga percampuran Tubuh dan Darah Kristus ini memberi kehidupan abadi kepada kami yang akan menyambut-Nya. Tindakan memecahkan roti dan memasukan cuilan roti ke dalam piala ini diiringi dengan mengucapkan atau menyanyikan lagu “Anak Domba Allah” yang dimulai oleh paduan suara atau solis dan dilanjutkan oleh umat, bukanlah antara imam selebran dan umat atau bahkan imam selebran sendiri. Kemudian [3] imam selebran berdoa dalam hatinya, hal yang sama dilakukan oleh umat beriman dengan berdoa dalam hati supaya Tubuh dan Darah Kristus yang akan disambut sungguh membawa buah bagi hidup dan pelayanan [PUMR 84], lalu imam selebran berlutut; dan kemudian [4] menunjukan roti yang sudah terpecah dengan cawan anggur kepada umat beriman sambil berkata Inilah Anak Domba Allah… dan umat menjawab Tuhan, saya tidak pantas… Dua bagian roti terpecahkan diangkat, diperlihatkan kepada umat beriman, dan diundang dengan mengucapkan, “Inilah Anak Domba Allah … ...” Kemudian, imam selebran memecah-mecahkan roti dan membagi-bagikannya ke dalam sibori-sibori yang tersedia di altar, dibantu oleh diakon atau para imam konselebran.
Saat pemecahan roti, umat beriman berdiri atau berlutut seturut pengaturan yang baik, sambil dapat menyaksikan apa yang sedang dilakukan oleh imam selebran di altar. Penyaksian umat beriman ini menyerupai kedua murid Yesus menuju Emaus, ketika melihat Yesus yang bangkit itu memecah-mecahkan roti terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Yesus… (Luk 24: 31). Umat yang berhimpun juga harus belajar dari peristiwa yang sama untuk menyaksikan atau melihat dengan mata hati dan budi tindakan Pemecahan Roti ini sehingga umat pun bisa menjadi terbuka hati dan budi terhadap kehadiran Kristus.
Bersambung ... P. Tinus Sirken, O.S.C..




