Seri: 11
Mendengarkan Allah Berbicara Dari Meja Sabda

Melalui Perarakan Evangeliarium
Pesan ilahi mau dinyatakan secara publik, resmi, dan agung melalui pembacaan Injil lambang kehadiran Kristus. Dimulai dengan ritus perarakan Buku Bacaan Injil (Evangeliarium) yang telah diletakan di atas altar pada saat perarakan masuk. Perarakan Evangeliarum sebagai berikut: kalau digunakan dupa, imam selebran mengisi dupa dari kursi imam. Lalu diakon (pembaca Injil) membungkuk di hadapan imam selebran untuk memohon berkat. Jika seorang imam konselebran yang bertugas membacakan Injil maka tidak perlu memohon berkat kepada sesama imam yang menjadi imam selebran. Namun jika yang menjadi imam selebran adalah uskup, maka imam konselebran juga memohon berkat dari uskup, tetapi tanpa mengucapkan formula seperti diakon. Kemudian, pembaca Injil mengambil Evangeliarium dan didampingi para putra altar yang membawa dupa dan lilin menuju ke mimbar atau ambo, sementara itu Bait Pengantar Injil dinyanyikan.
Melalui Bait Pengantar Injil
Isi Bait Pengantar Injil biasanya berkaitan dengan Bacaan Injil. Sebelum bait itu dinyanyikan, semua umat bangkit berdiri menyanyikan bagian antifon atau ulangannya. Dan terdapat dua macam antifon: pertama berupa “Alleluia” dan atau kedua bukan “Alleluia”. Di luar masa Prapaskah kita menyanyikan
“Alleluia” yang berarti “Pujilah Allah”. Sedangkan sepanjang masa Prapaskah, aklamasi “Alleluia” diganti dengan “Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal”. Inilah yang disebut bukan “Alleluia” itu. Jadi, sebelum mendengarkan Injil, umat diundang untuk memuji Allah melalui Bait Pengantar Injil yang dipandu oleh paduan suara atau solis.
P. Faustinus Sirken, OSC




