Temu Komsos Dekenat Tangerang 8 Jan 2017 Dan Pilkada Banten

Memasuki awal tahun baru dan untuk mengevaluasi kerja di tahun 2016 serta menghadapi rencana kerja di tahun 2017, Komsos dekenat Tangerang mengadakan pertemuan di ruang kasih GKP Gereja St. Laurentius (8/1). Total ada 12 dekenat dan semua dekenat di undang hadir, namun ada satu perwakilan dari komsos Pamulang yang belum bisa hadir. Masing-masing dekenat mengirimkan 4 orang utusannya. Acara dimulai pukul 11.00 dan berakhir hingga 15.30 WIB. Acara ini juga sekalian digunakan sebagai ajang perkenalan masing-masing komsos paroki.

Acara pembukaan di mulai dengan presentasi dari Pastor M. Harry Sulistyo, Pr, Komsos KAJ. Beliau memaparkan tentang komsos dan dikaitkan dengan gerakan amalkan Pancasila 2016 – 2017, sesuai dengan arah dasar KAJ 2016 – 2020 yaitu “Amalkan Pancasila”. Beliau juga memaparkan apa itu komsos dan kerja-kerja yang harus dilakukan oleh komsos. Menurut beliau komsos harus bekerja sama dengan para awam yang berperan dalam penggunaan media baik cetak, elektronik, on line, dsb. Termasuk teknologi informasi / komunikasi.
Masih banyak salah kaprah di lingkungan umat ketika ditanya apa itu komsos ? ada yang bilang komisi social, padahal di gereja katolik sudah ada komisi sosial itu sendiri yang secara khusus di bentuk sesuai dengan tugasnya.
Secara umum fungsi dari komsos atau komisi / seksi komunikasi sosial yang ada di paroki adalah sebagai perangkat yang mendorong, memfasilitasi, dan mengevaluasi agar terlaksananya reksa pastoral komunikasi sosial untuk mewartakan injil dalam aneka macam karya kerasulan. Tentu dalam pelaksanaanya komsos harus ditunjang oleh penggunaan media baik berupa media cetak, online, dsb.
Apabila orang-orang yang berada di komsos memahami fungsi dari keberadaan komsos itu sendiri, paling tidak banyak perkara gagal paham yang selama ini terjadi bisa diminimalisir. Dimana tahun 2016 kemarin merupakan tahun evangelisasi. Tugas dari komsos adalah sebagai pastoral evangelisasi. Tiga tugas utama dari komsos adalah mendorong, memfasilitasi, dan mengevaluasi.
Berbagai peristiwa radikalisme yang ramai terjadi di penghujung akhir tahun 2016 sebenarnya mau tidak mau komsos juga harus sensitif, mengamati peristiwa itu dan mencoba menganalisanya. Banyaknya peristiwa gagal paham oleh sebagian umat beragama tentang ajaran Gereja yang cukup memprihatinkan juga, bahkan hingga adas kejadian yang katanya diucapkan oleh seorang tokoh agama tertentu tersebut itu beredar di sosial media dan parahnya apa yang beredar itu akhirnya membuat kacau, merusak kedamaian yang sudah ada di republik tercinta ini.
Ramainya berita bohong atau hoax yang ada saat ini hampir di semua media sosial online rupanya mengusik juga keprihatianan seorang pakar IT, beliau inilah yang membuat aplikasi di salah satu bank swasta terbesar di Indonesia saat ini, beliau aktif juga di komsos gereja St. Theresia Jakarta. Beliau memaparkan kenapa begitu mudahnya orang-orang membuat portal berita abal-abal yang isinya tidak jelas bahkan bisa dibilang lebih banyak bohong daripada benarnya. “Media sosial paroki harus memiliki filosofi dalam bekerja dan berkarya”, demikian yang dikatakan bapak Izak Jenie. Itulah kunci yang membedakan kita dengan yang lainnya.
Nah melihat pertemuan Komsos di atas, apabila dikaitkan fungsi komsos dengan pesta demokrasi saat ini, khususnya untuk daerah Banten, dimana kita tahu sebentar lagi akan ada pemilihan gubernur pada tgl 15 Februari 2017, dan secara resmi telah ditetapkan dua pasangan yaitu nomer urut 1 pasangan Wahidin Halim – Andika Hazrumy dan pasangan nomer urut dua pasangan Rano Karno – Embay Mulya Syarif. Hendaknya Komsos harus berperan aktif bersama komisi kerawam, OMK, dan segenap kategorial katolik yang ada untuk bersama-sama mensukseskannya. Terutama sekali untuk pemilih pemula di lingkungan gereja katolik. Mungkin bisa diadakan semacam voters education.
Hendaknya momen ini dapat segera dikelola dengan baik oleh mereka-mereka yang peduli dan punya kemampuan di dalamnya. Maksudnya jangan sampai umat katolik nanti dalam memilih pemimpinnya seperti memilih kucing dalam karung.
Pertanyaannya sekarang, apa yg bisa dilakukan oleh kategorial yang ada ? Komsos dapat menggunakan media cetak yang sudah ada saat ini, seperti majalah Komunika dengan menampilkan kedua pasang kandidat tersebut. Memberikan pertanyaan kepada para kandidat, mengetahui visi dan misi mereka. Sehingga profile mereka bisa dilihat dan diketahui oleh umat katolik. Bahkan mungkin menggunakan media website juga.
Kalo kita mau berbicara dari segi bisnis untuk kelangsungan media kita, kedua kandidat ini dapat kita arahkan untuk membeli sekian ratus eksemplar majalah paroki. Sehingga mereka yang non katolik akan mengetahui juga karya kerasulan kita di tengah masyarakat yang majemuk ini melalui media cetak.
Adrianus Trio. S
10 Jan 2017



























