Saat itu, tahun 1999, Timor Timur tengah bergolak. Tak terbilang milisi yang dijebloskan ke dalam penjara karena tersandung kasus pembunuhan. “Pada awalnya mereka terkesan ganas dan brutal. Mereka menyimpan dendam karena anggota keluarganya dibunuh,” ungkap Suster Ignatio saat dijumpai di Biara Ursulin Jl. Alamanda BSD City, Selasa petang, 18 November 2014. Perlahan-lahan aktivis Forum Perempuan ini mengajari mereka melakukan Doa Hening. “Dengan diam sambil mengucapkan mantra Yesus,” bebernya. Menurut mantan pengajar di SMA Surya Atambua ini, sikap para tahanan itu perlahan-lahan mencair. Dalam konsultasi terungkap bahwa akhirnya mereka sanggup menerima realita, sekalipun teramat getir. Amarah pudar, dendam pun sirna....
Bahkan, seiring waktu, ada tahanan yang mengatakan kepada Suster Ignatio bahwa Doa Hening menjadi ‘napasnya’. Tak hanya kepada para tahanan, Suster Ignatio pun memperkenalkan Doa Hening kepada para pengungsi di kampkamp pengungsian. “Saya menyaksikan sendiri bagaimana pengungsi-pengungsi yang semula stres bisa tenang kembali,” katanya. Pengalaman mendampingi para tahanan dan para pengungsi ini menorehkan jejak di hati Suster Ignatio. Sejak itu, ia giat memperkenalkan Doa Hening kepada banyak orang, yang terbukti bisa membuahkan ketenteraman hati.
Suster Ignatio Resohardjo OSU
Kaul Kekal
Jalan panggilan yang berliku telah dilintasi oleh Suster Ignatio. Sewaktu duduk di bangku SMP, benih-benih panggilan mulai tertabur di pelataran hatinya. Seorang biarawati yang kerap melintas di muka sekolahnya begitu mempesonanya. “Meski sudah lanjut usia, suster itu selalu tampak gembira,” kenang biarawati asal Klaten ini. Namun, sang ayah tak serta-merta mendukung cita-citanya. Ignatio yakin jika memang Tuhan memanggilnya tentu Ia akan membentangkan jalan di hadapannya. Ignatio menyimpan cita-citanya di dalam hati. Sementara itu, iamelanjutkan studi di Sekolah Guru Atas (SGA). “Ursulin berkarya di bidang pendidikan karena itu saya mempersiapkan diri.”
Selepas studi SGA di Madiun, Ignatio menjadi guru di SD St. Vincentius Putri Bidaracina, Jakarta Timur. “Sebelum masuk biara, saya ingin sedikitsedikit membalas kebaikan orangtua terlebih dahulu dengan bekerja,” ujarnya terus terang. Setelah tiga tahun menjadi guru, Ignatio berbulat tekad untuk menjadi biarawati Ursulin. Pada saat itu sang ayah bisa menerima kenyataan. “Kamu sudah dewasa, sudah bisa menentukan jalan hidupmu sendiri,” sitir Suster Ignatio dengan paras cerah.
Tahun 1966, Ignatio masuk Biara Ursulin. Ia pun meniti masa postulan, novis, dan yuniorat dengan batin lapang. Tak sekalipun terbersit keinginan di benaknya untuk beralih cita-cita. Ia pun siap diutus untuk berkarya di berbagai daerah; tak hanya di Atambua tetapi di Nobal Kalimantan Barat, di Cisantana Jawa Barat, dan juga di Jakarta. “Di mana pun saya ditugaskan, saya merasa nyaman. Setiap daerah punya kekhasan tersendiri,” tandasnya. Ia mengakui, berkarya selama tujuh tahun di Atambua menjadi pengalaman yang tak terlupakan, terlebih sewaktu terjadi pergolakan menjelang kemerdekaan Timor Leste. Ketika suhu politik memanas, Provinsial OSU memerintahkan para suster di Atambua untuk mengungsi ke Kupang. Namun, Suster Ignatio memilih bertahan sendirian di biara.
“Setelah berkonsultasi dengan Uskup Atambua waktu itu, Mgr. Pain Ratu, saya memutuskan tetap tinggal di Atambua,” kenangnya. Pada waktu itu Pastor A. Dewanto SJ dan Pastor Karim Albrech SJ, dan beberapa biarawati tewas ditembak milisi. Sejak belia, suster yang saat ini berusia 71 tahun ini sudah menyukai Doa Hening. Doa Hening pula yang membuatnya tetap tenang berkarya dalam stiuasi genting. “Sejak di Yuniorat, saya mengenal Doa Hening,” lanjutnya. Namun, secara intensif ia baru melakukan Doa Hening setelah kaul kekal pada tahun 1975.
Secara Rutin
Tahun 2010, Suster Ignatio mulai berkarya di Paroki St. Monika BSD. Ia diminta untuk membimbing sekelompok umat yang secara rutin mengikuti pendalaman Kitab Suci di Biara Ursulin Jl. Alamanda. “Saya melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh Suster Sian. Tetapi, saya memakai cara saya sendiri,” ungkapnya. Sebelumnya, ada sekelompok ibu-ibu yang meminta kepada Suster Sian untuk dibimbing dalam pendalaman Kitab Suci. “Sementara menunggu anak-anaknya bersekolah di Santa Ursula, mereka mendalami Kitab Suci,” kata Suster Ignatio. Lantas, ia pun berbagi Doa Hening kepada sekelompok umat tersebut. Seiring bergulirnya waktu, jumlah umat yang tertarik berhimpun dalam kelompok ini membengkak. Kapel susteran tak lagi memadai sehingga pertemuan berlangsung di aula Dorothea Paroki St. Monika. Supaya punya wadah resmi, kelompok binaannya ini berhimpun ke dalam Kelompok Meditasi Kristiani pada tahun 2010. “Pendiri Meditasi Kristiani adalah Pastor John Main OSB. Pusat organisasinya di London. Sedangkan pusat di Indonesia, di RS Atma Jaya Pluit,” bebernya.
Berbagai Mantra
Suster Ignatio terbiasa untuk hening setelah membaca Kitab Suci. Hal itu diterapkannya kepada umat binaannya. Selama hening, mereka memakai doa singkat yang didaraskan berulangulang atau disebut mantra. Ada berbagai mantra yang bisa dipilih peserta, di antaranya “Yesus kasihanilah aku”, “Maranatha” (Datanglah ya Yesus), atau “Bapa ya Bapa”.... “Silakan memilih salah satu mantra dalam Doa Hening,” katanya. Pada tahap awal, peserta diberi kesempatan melakukan Doa Hening selama sepuluh menit. Selang beberapa waktu, Doa Hening ditingkatkan menjadi 20 menit. Saat ini, sebagian peserta Meditasi Kristiani di Paroki St. Monika sudah melakukan Doa Hening selama setengah jam. “Susunannya adalah doa pembukaan, baca Kitab Suci, lalu masuk dalam keheningan, baru kemudian sharing,” urai Suster Ignatio.
Saat ini, sudah ada lima kelompok Meditasi Kristiani di Paroki St. Monika BSD. Pesertanya tak hanya orang dewasa tetapi juga lansia. “Sekitar 30-an anggota Kelompok Lansia Paroki St. Monika ikut,” tutur Suster Ignatio. Meditasi Kristiani Paroki St. Monika berlangsung setiap Selasa pukul 06.30 untuk kelompok lansia, Jumat pukul 07.30 dan 19.30, Sabtu pukul 07.30, dan Minggu pukul 15.45. Meditasi Kristiani ini beranak-pinak dengan munculnya kelompok remaja dan anak-anak. Para pelajar SMP dan SMA berhimpun setiap Jumat pukul 13.00. “Selama dua bulan ini, ada sekitar 20 remaja ikut,” imbuh Suster Ignatio. Sementara untuk siswa-siswa SD kelas 4 ke atas, baru dimulai secara intensif pada Januari 2015; setiap Rabu pukul 17.00.
Biarawati yang masih tampak segar di usia senja ini mengemukakan bahwa pada 9 November 2014, ada sekitar 50 siswa SD yang mendapat pengarahan di aula Dorothea Paroki St. Monika BSD, untuk mengikuti Meditasi Kristiani. Mulanya, dalam retret Meditasi Kristiani pada Juni 2014 tercetus gagasan untuk mengajak anak-anak bermeditasi. “Kami ‘kan diutus untuk mewartakan Cahaya yang bersinar di kedalaman hati. Perwujudannya dengan mengajak anakanak untuk bergabung,” papar biarawati ini seraya mengait senyum. Ia mengemukakan, dengan mengajak anak bermeditasi sebenarnya menyiapkan masa depan Gereja, karena sejak dini anak sudah diajak untuk berdoa dengan baik. Menurut Suster Ignatio, berkembangnya kelompok ini sama sekali tidak membebaninya. Karena setiap kelompok punya ketua, yakni peserta meditasi yang sudah lama bergabung. “Kami bagibagi tugas. Saya hanya menengok saja.”
Sesuai Kondisi
Pembimbing Rohani Legio Maria Presidium Bunda Pengantara Segala Rahmat BSD dan Presidum Pembaru Dunia Vila Melati Mas ini memperkenalkan Doa Hening sesuai dengan kondisi umat masing-masing. “Secara rohani, pada umumnya warga Paroki St. Monika mampu. Bahkan sebagian sudah mengikuti Emmaus Journey,” tukasnya. Ia selalu mengambil materi Kitab Suci yang sesuai dengan liturgi Gereja, yakni bacaan Injil untuk Misa yang akan datang. Ia juga menimba sumber dari Kompendium Katekismus Gereja Katolik dan juga buku “Jalan Menuju Kehidupan” karya Pastor Gerry Pierse CSsR.
Pada waktu Doa Hening tidak ada alat bantu. Hanya ada musik sebagai tanda bahwa Doa Hening dimulai dan diakhiri. Tetapi, tidak ada musik di sepanjang hening. Hanya ada lilin. Meditasi ini dilakukan dengan memejamkan mata. “Posenya boleh bersila, boleh duduk. Yang penting, duduk nyaman dengan punggung tegak. Tutup mata, lalu mengucapkan mantra,” paparnya. Setiap kali pertemuan Meditasi Kristiani berlangsung, Suster Ignatio berupaya hadir guna mengarahkan sharing Kitab Suci. Kendati usianya kian senja, semangatnya dalam melayani umat tetaplah berpijar, sebagaimana ungkapnya, “Kristus yang memanggil saya yang membuat saya tetap bersemangat....” (Oleh Maria Etty)
Pada 7 Desember 2014 telah dilaksanakan diksar atau pendidikan dasar CUBG - Credit Union Bererod Gratia bertempat di aula St. Dorothea, Gereja St. Monika. Kegiatan terbagi dalam beberapa sesi yang diantaranya mengungkap latar belakang munculnya credit union, sejarah CUBG, tata cara dan syarat menjadi anggota CUBG, produk yang ditawarkan dan pengangkatan anggota atau calon anggota CUBG. Tetapi apa dan bagaimana sebenarnya CUBG?
Uang selalu menjadi masalah dalam kehidupan manusia. Tanpa uang hidup akan sengsara namun tak menampik pula banyak uang juga akan membawa penderitaan lain dalam wujud keserakahan dan ambisi. Credit union yang sering diasosiasikan dengan koperasi sesungguhnya berbeda formasi. Koperasi adalah kumpulan permodalan individu yang memberikan wewenang kepada koperasi itu sendiri untuk melakukan suatu unit usaha atau bisnis. Sedangkan credit union lebih kepada kumpulan orang/ komunitas yang memiliki nilai dan prinsip-prinsip dalam mengelola keuangannya. Credit union tidak sama dengan perbankan sehingga tidak ada jaminan apapun juga terkecuali kepercayaan antar anggota untuk saling melakukan aktivitas simpan-pinjam.
Dipelopori oleh pertemuan karyawan KWI pada tahun 2002 maka pemikiran tentang credit union mulai menjadi gagasan tentang kebersamaan yang berkesinambungan dan mensejahterakan. Hal yang sangat dibutuhkan oleh para karyawan. Pada tahun 2006 cikal bakal credit union mulai berdiri dengan nama ‘Bererod Gracia’. ‘Bererod’ diambil dari bahasa Betawi artinya adalah beriringan sedangkan ‘gracia’ diambil dari bahasa Latin yang artinya adalah rahmat. Sehingga credit union bentukan ini diharapkan akan berkesinambungan memberikan rahmat. Karena di Indonesia belum ada dasar hukumnya maka credit union disebut juga kopdit atau koperasi kredit, dilindungi oleh UU no 12/1967 tentang koperasi, walaupun pada kenyataannya memang ada sedikit perbedaan prinsip pengelolaan dengan koperasi.
Tiga pilar utama dari credit union adalah pendidikan, setia kawan (solidaritas) dan swadaya. Pendidikan dimaksudkan agar anggota memiliki pola pikir positif dalam mengelola keuangan untuk meningkatkan harkat hidup. Setia kawan dimaksudkan agar setiap anggota ingat akan kewajibannya untuk menyimpan atau menabung secara reguler. Demikian pula jika meminjam maka harus ingat untuk mengangsur pelunasannya secara teratur. Sikap yang tidak bertanggung-jawab akan menyulitkan orang lain. Sedangkan swadaya dimaksudkan bahwa simpanan dan pinjaman untuk permodalannya dihimpun dari anggota dan diberikan hanya kepada anggota.
Hal terbaik dari credit union khususnya CUBG adalah banyaknya pendidikan atau sharing pengetahuan antar anggota tentang cara pengelolaan uang. Mitos yang salah tentang uang adalah bahwa uang sulit dicari namun mudah dihamburkan. Yang benar adalah mendapatkan uang mudah, tetapi yang sulit adalah mengelola uang tersebut. CUBG diharapkan akan menjadi solusi atas permasalahan keuangan anggota dengan cara menolong anggota untuk menolong diri sendiri. Sesuai dengan prinsip CUBG yaitu helping people help themselves. Penggagas credit union F.W. Raiffeisen mengatakan bahwa credit union tidak sebatas hanya pada pemberian pinjaman namun juga penekanan pada pengendalian penggunaan uang, memperbaiki nilai-nilai moral dan fisik serta mendorong anggota untuk mandiri.
Untuk Paroki Santa Monika Serpong, anggota CUBG masih belum banyak. Hanya ada sekitar seratus orang saja. Maka untuk sementara layanan Credit Union Bererod Gracia bagi wilayah Serpong masih masuk dalam unit pelayanan kantor kas cabang Pamulang yang beralamatkan di Ruko Pamulang Permai Blok SH4 no 7-8 Pamulang Tangerang Selatan, Phone: 021-3664-4331. Kepala kantor adalah Vancianus Papu dengan pendamping Ancila Martuti Kuntoro. Sementara itu salah satu anggota dewan penasihat CUBG yang juga berperan sebagai trainer diksar awal Desember lalu adalah Danny H. Budihardja warga Paroki Santa Monika. Berminat untuk bertumbuh dalam iman sekaligus bertumbuh dalam kesejahteraan? Coba kunjungi website Credit Union Bererod Gracia di www.cubg.or.id. (penulis : Josephine Winda, sumber: diksar CUBG & website)
Ekaristi adalah sumber dan rangkuman dari kehidupan Kristiani (LH no. 11). Menggereja adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Terkadang sedemikian menyatunya kita dalam kehidupan Kristiani, kita melupakan hal-hal tentang kepantasan. Dan salah satunya adalah kepantasan dalam mengenakan busana. Sedekat itukah kita dengan Kristus, sehingga tak lagi menghormatiNya sebagai Bapa? Kedekatan dan kasih sayang terhadap Tuhan tidak lalu harus melupakan dan meniadakan norma-norma kesopanan. Hal-hal yang ada bukan hanya ada karena kita pelajari dari Tuhan Yesus sendiri, terlebih juga sebagai bukti kasih kita kepada sesama saudara dalam iman, untuk menghormati yang lain dan juga untuk memberi teladan kepada anak-anak kita tentang kepantasan.
Pakaian yang kurang pantas dalam gereja
Hal ini menunjukkan martabat kita sebagai anak-anak Allah. Ketika kita tampil dengan martabat yang membuat orang lain kagum dan menghormati, itu bukanlah karena diri kita sendiri. Tetapi karena bimbingan Tuhanlah yang memberikan pengertian kepada kita untuk tampil dengan segala kesopanan dan kesantunan. Kesucian gereja sebagai rumah Tuhan dan perayaan Ekaristi menghendaki agar semua pengikut Kristus berbusana dengan merepresentasikan apa yang tengah mereka perbuat, yaitu merayakan misa kudus. Dalam Ecclesia de Eucharistia No. 49 tertulis sebagai berikut, “Misteri Ekaristi telah dicanangkan sebagai suatu ekspresi sejarah, tidak hanya dalam rangka sekedar memenuhi permohonan tampilan luar suatu watak kesetiaan, namun juga sebagai bentuk perwujudan yang menimbulkan dan menegaskan kemuliaan perayaan yang tengah diselenggarakan.” Jadi jangan anggap undangan Ekaristi hanyalah sekedar acara mampir sebelum menuju ke tempat lain. Sesungguhnya, menuju pada undangan perayaan Ekaristi adalah tujuan hidup kita.
Berdasarkan ketetapan perundangan gereja beberapa aturan pengenaan busana yang kurang pantas adalah sebagai berikut, busana dengan tali spaghetti, busana dengan punggung terbuka, busana tanpa lengan/ busana tanpa kerah, busana penutup dada (model kemben), rok mini, celana tanggung, celana pendek/celana santai, topi pet dan sandal. Sementara busana yang layak dikenakan untuk mengunjungi perayaan Ekaristi adalah blus berlengan/blus berkerah, gaun panjang tertutup/dress, rok panjang menutup lutut, kemeja/T-Shirt lengan pendek dengan kerah, celana panjang semata kaki, kemeja/ T-Shirt lengan panjang dengan kerah, busana kantor dan sepatu. Jika Anda diundang ke pesta, bukankah Anda akan menghormati sang tuan rumah? Apalagi jika yang mengundang adalah Kristus sendiri, bagaimana cara Anda menghormatiNya? (Oleh Josephine Winda)
Hari ini kita merayakan Pesta Keluarga Kudus. Kenapa keluarga Yusuf dan Maria disebut keluarga kudus? Apakah karena mereka tidak pernah cekcok? Apakah karena mereka selalu rajin pergi ke sinagoga atau apakah mereka tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidup berkeluarga? Saya yakin bukan! Mereka disebut Keluarga Kudus karena hadir di sana, Yesus Kristus Putra Allah. Kehadiran Yesus menguduskan hidup keluarga itu secara lahir maupun batin. Suasana hidup keluarga dipengaruhi oleh kasih dan damai yang dibawa Yesus. Oleh karena itu, kalau kita orang-orang percaya ini mau menjadikan keluarga kita sebagai keluarga kudus, pertama-tama bukan berarti keluarga kita harus bebas dari salah, bukan berarti tiap-tiap anggota tidak melakukan kekeliruan, melainkan keluarga kita mau menerima serta membiarkan diri dipengaruhi oleh Yesus, yang kita imani. : www.indocell.net/yesaya