Iman Yang Berani (16-5-13)
Kamis, 16Mei2013
Kisah Para Rasul 22:30; 23:6-11;
Mazmur 16:1-2a,5,7-8,9-10,11;
Yohanes 17:20-26
IMAN YANG BERANI
“Pada malam berikutnya Tuhan datang berdiri di sisinya dan berkata kepadanya: "Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma."
(Kisah Para Rasul 20:35)
Paulus dihadapkan kepada imam-imam kepala dan seluruh Mahkamah Agung. Kepala pasukan penjara ingin mengetahui dengan teliti sebenarnya apa yang dituduhkan orang-orang Yahudi kepada Paulus. Paulus tahu bahwa sebagian besar yang hadir adalah orang Saduki dan sebagian orang Farisi. Karena itu, ia berseru dan mengaku bahwa Ia orang Farisi mengharapkan kebangkitan orang mati. Saat ia mengatakan demikian, timbul perpecahan di antara orang Farisi dan Saduki. Sebab orang Saduki tidak mengakui kebangkitan maupun malaikat atau roh. Tetapi orang-orang Farisi mengakui keduanya. Karena takut terjadi keributan besar, kepala pasukan membawa Paulus kembali ke markasnya.
Teman-teman, beranikah kalian mengakui iman kalian di hadapan orang banyak seperti Paulus ? Berani mengakui iman untuk anak seusia kita bisa berbentuk tidak malu berdoa di depan orang banyak, berani membuat tanda salib, tidak malu membaca Kitab Suci, berbuat baik, dan lain-lain. Berani ‘kan, sahabat ? (OC).
Doa (†) :
Memberi Lebih Baik Dari Menerima (15-5-13)
Rabu, 15Mei2013
St. Pakomius
Kisah Para Rasul 20:28-38;
Mazmur 68:29-30,33-35a,35b-36c;
Yohanes 17:11b-19
MEMBERI LEBIH BAIK DARI MENERIMA
“Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (Kisah Para Rasul 20:35)
Syalom, teman-teman! Firman Tuhan hari ini mengajarkan kita, agar lebih baik memberi daripada menerima. Itu artinya kita harus lebih sering memberikan bantuan kepada sesama daripada meminta bantuan dari orang lain. Hal ini jangan membuat kita salah mengerti bahwa kita tidak boleh menerima bantuan orang lain. Sebaliknya, alangkah lebih baik kalau kita lebih sering memberi daripada menerima.
Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa belajar berbagi dengan teman kita dalam bentuk yang sederhana. Misalnya : berbagi bekal makanan dengan teman di sekolah. Bisa juga meminjamkan alat tulis, saling mendoakan, dan lain-lain.
Ingat ya, teman-teman ! Saat kita memberi hal yang baik, kita pasti juga diberkati dengan hal-hal yang baik oleh Tuhan. (Rf).
Doa (†) :
Tuhan Yesus, ingatkan kami selalu bahwa lebih berbahagia memberi daripada menerima. Amin.
Hidup Untuk MelayaniMU (13-5-13)
Senin, 13 Mei 2013
St. Maria dari Fatima
Kisah Para Rasul 19:1-8;
Mazmur 68:2-3,4-5ac,6-7ab;
Yohanes 16:29-33
HIDUP UNTUK MELAYANI-MU
“Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan mengajar dengan berani. Oleh pemberitaannya ia berusaha meyakinkan mereka tentang kerajaan Allah.” (Kisah Para Rasul 19:8)
Sahabat, hari ini kita membaca tentang kisah Rasul Paulus. Dia selalu hidup untuk melayani Tuhan. Sepanjang hidupnya ia juga memberitakan Injil kepada banyak orang. Tidak banyak yang bisa seperti Rasul Paulus. Belum tentu semua orang mau hidup untuk melayani Tuhan.
Sahabat, kita masing-masing diberikan talenta oleh Tuhan. Ada yang pintar berpidato, menulis, menggambar, menyanyi, bermain musik, menari, dan lain-lain. Sadarkah teman-teman kalau talenta kita pun bisa digunakan untuk melayani Tuhan. Contoh : jika kita berbakat menyanyi, maka kita bisa ikut paduan suara gereja. Kalau suka menulis, kita bisa menulis renungan harian Kitab Suci. Kalau kita suka bermain alat musik, kita bisa mengiringi paduan suara gereja.
Agar kita bisa melayani Tuhan, kita perlu aktif mengikuti berbagai kegiatan rohani. Misalnya : bina iman, koor di sekolah, doa rosario, pendalaman kitab suci, dan masih banyak lagi. Yuk, kita rajin mengikuti kegiatan-kegiatan rohani. Karena dari situlah kita bisa belajar melayani Tuhan. (Nat)
Doa (†) :
Tuhan, kami mau hidup melayani-Mu. Bimbinglah kami, agar bisa menjadi berkat bagi orang lain. Amin.
Teladan St. Matias, Rasul (14-5-13)
Selasa, 14 Mei 2013
Pesta St. Matias, Rasul
Kisah Para Rasul 1:15-17,20-26;
Mazmur 113:1-2,3-4,5-6,7-8;
Yohanes 15:9-17
TELADAN ST.MATIAS, RASUL
“Jadi harus ditambahkan kepada kami seorang dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami,” (Kisah Para Rasul 1:21)
Sesudah Yesus naik ke surga, para murid dan kesebelas rasul bersama Bunda Maria kembali ke Yerusalem. Mereka menantikan Roh Kudus yang dijanjikan Yesus. Mereka bertekun dalam doa sambil menanti kedatangan Roh Kudus dengan sabar. Saat itu Petrus, pemimpin para Rasul, mengusulkan seorang murid untuk menggantikan Yudas Iskariot yang mengkhianati Yesus. Mereka mengajukan dua orang murid, yaitu Yosef atau Barsabas atau Yustus (= yang adil) dan Matias. Setelah berdoa bersama, mereka membuang undi. Pilihan jatuh kepada Matias. Sejas saat itu Matias menjadi rasul yang kedua belas. Mereka menyebarkan Kabar Gembira ke seluruh penjuru dunia. Matias adalah rasul yang setia, tekun, dan bersemangat serta prihatin. Ia dimakamkan di Trier, Jerman.
Teman-teman, jika kita hidup setia, tekun, dan bersemangat di dalam Tuhan, maka Ia akan memilih kita untuk melayani-Nya meski usia kita masih kecil. Maukah kalian melayani Yesus ? (RBS)
Doa (†) :
Tuhan, kami rindu melayani-Mu meski usia kami masih muda. Amin.
Ampuni dan Doakan Mereka! (12-5-13)
Minggu, 12 Mei 2013
Hari Minggu Paskah VII
Hari Minggu Komunikasi Sedunia
Kisah Para Rasul 7:55-60;
Mazmur 97:1,2b,6,7c,9;
Wahyu 22:12-14,16-17,20;
Yohanes 17:20-26
AMPUNI DAN DOAKAN MEREKA !
“Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Dan dengan perkataan itu meninggallah ia." (Kisah Para Rasul 7:60)
Stefanus penuh dengan Roh Kudus. Ia menatap ke langit dan melihat kemuliaan Allah. Ia juga melihat Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Orang banyak yang mengelilingi Stefanus berteriak-teriak sambil menutup telinga mereka. Lalu mereka menyerbu Stefanus dan menyeretnya ke luar kota. Mereka juga melempari Stefanus. Saat mereka melemparinya, Stefanus hanya berdoa sambil berlutut. Ia berseru dengan suara nyaring, ”Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka !”. Lalu ia meninggal setelah mengucapkan kalimat itu.
Luar biasa perbuatan Stefanus ! Meski ia dianiaya dan disiksa, ia tetap berdoa bagi mereka yang menyiksanya. Bahkan ia meminta, agar Allah jangan menghukum orang banyak itu atas perbuatan mereka.
Bagaimana dengan kita ? Mampukah kita mengampuni dan berdoa bagi mereka yang sudah menyakiti kita ? (My).
Doa (†) :
Bapa, bentuklah hati kami agar mampu mengampuni dan mendoakan mereka yang menyakiti hati kami seperti Stefanus. Amin.




